Kamis, 13 Desember 2012

Ekstraksi Rasa

Ah… andaikan ada sebuah alat macam KLT dan Densitometer atau HPLC, yang digunakan untuk mendeteksi dan mengukur seberapa besar sebuah perasaan. Kemudian dilanjutkan pada alat ekstraksi untuk memisahkan perasaan itu dan hatiku terbebas darinya.  Maka aku kan mengindentifikasi perasaanku sekarang dengan mengambil sampel yang kuidentifikasi pada alat mirip spektroskopi inframerah atau spektroskopi massa. Untuk melihat apakah yang ada di hatiku memiliki bentuk perasaan spesial itu ataukah hanya perasaan kacau yang tak perlu dikhawatirkan. 

Jika ternyata ada perasaan pink dalam hatiku, maka aku harus melakukan analisis kuantitatif, seberapa banyak perasaan itu ada dalam hatiku. Sudah sejauh mana. Mungkin dengan alat kromatografi gas, karena perasaan ini seperti minyak atsiri yang harum sangat namun bisa melukai hidung dan membuat pusing jika terlalu menyengat, yang seharusnya bisa mudah menguap pada suhu ruang. Tetapi sayangnya kondisi hati yang diliputi minyak atsiri jenis ini akan menyesuaikan yaitu berubah menjadi sangat dingin untuk mempertahankan minyak atsiri. 

Ketika aku sudah tahu seberapa besar kandungan rasa minyak atsiri dalam hatiku, maka aku tahu dengan cara apa menyari dari hatiku. Agar terbersihkan dari minyak atsiri jenis ini. Kalau ternyata minyak atsiri ini mau diambil untuk digunakan, sebagai zat aktif, maka harusnya dengan cara destilasi. Menampung minyak atsirinya.

Tetapi dalam kasus ini tentunya tidak. Karena belum berkhasiat di kehidupanku. Belum tepat waktu untuk memproduksi dan menggunakan zat aktif ini. Jadi, seperti kunyit yang harus dibersihkan dari minyak atsiri untuk bisa berkhasiat sebagai pelangsing, maka minyak atsiri yang berkhasiat sebagai penambah nafsu makan harus dihilangkan. Agar tak jadi efek kontraindikasi. Masa dalam satu bahan khasiatnya berlawanan. Efek yang diinginkan tak sampai tujuan dong... Sama juga hatiku, yang sebagai kurkuminnya berkhasiat sebagai semangat perjuangan meraih cinta. Eh minyak atsirinya malah sebagai pemicu hati malas karena sibuk berbunga-bunga dan menghadirkan bayangan-bayangan tak jelas. Kontraindikasi sekali.

Lalu bagaimana cara menghilangkan si minyak atsiri? Mudah saja, liat sifat fisika kimianya. Minyak atsiri itu jenis senyawa terpenoid yang memiliki bau harum atau khas, bersifat nonpolar, tidak mudah larut dalam air, larutnya dalam alkohol, eter atau khloroform. Satu sifat yang terpenting, minyak atsiri mudah menguap. Sebenarnya tinggal didiamkan saja tu minyak atsiri, maka ilang sendiri tu bersama udara. Tapi masalahnya minyak atsiri ini dalam suatu daun atau rimpang atau biji atau buah. Dia terperangkap di dalamnya. Sulit menguap. Perlu di ektraksi. Kembali ke kunyit tadi, kita hanya perlu merebus kunyit itu untuk menghilangkan minyak atsiri. Menguap sudah si minyak.

Apakah semudah itu juga menguapkan minyak atsiri dalam hati? Memanaskan hati dengan kemarahan? Oh jangan dong... Mungkin cara menguapkannya dengan mendidihkan hati pada kegiatan yang sangat kita inginkan tercapai. Berusaha menggapai mimpi dan cita. Warming up our heart! Untuk memudahkan pemanasan adalah mendekat kepada Allah, yang mampu dan berkuasa untuk mengobarkan api lebih besar. Agar cepat proses penguapan minyak atsiri itu. Semoga dua cara ini benar-benar menghilangkan minyak atsiri yang tak kita sukai atau tak tepat berada dalam waktu dan hati kita.

Ada cara lain sih sebenernya... Esok kulanjutkan ceritanya... Insya Allah...

Bersambung ya...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Komentari Tulisanku Sobat...


Entri Populer

Pengikut