Sabtu, 29 Desember 2012

Setitik Pengorbanan di Lautan Bahagia


            Hari ini hari penting dalam hidupku. Pertama kalinya dalam hidupku. Hampir lengkap kisahku sebagai orangtua. Anak ku akan dilamar. Gadisku yang pertama sudah sangat dewasa dan akan dipinang oleh pangerannya.
            Rasanya baru kemarin aku mendengar teriakannya lantaran kuliahnya yang sulit. Dan baru kemarin aku menghadiri wisudanya. Juga kebahagiaan dia diterima menjadi PNS. Sungguh seperti baru tadi malam saja. Sekarang dia sudah siap untuk melanjutkan hidupnya ke dunia yang baru.
            Anindita Gayatri, nama putri sulungku. Meski sifatnya kadang pemarah dan sangat keras, tetapi dia sangat menyayangi keluarganya. Dia seorang anak yang berbakti. Anak sekaligus kakak yang hebat.
            “Bu, rombongan Mas Cahyo sebentar lagi sampai.” Suara Nindita membuyarkan lamunanku.
            “Iya. Semua sudah siap kan?” Nindita mengangguk dengan senyum menjawab pertanyaanku, aku balas tersenyum.
            Benar saja, beberapa menit kemudian rombongan lamaran dari keluarga Cahyo tiba di rumah kami. Kami yang telah siap sejak tadi, segera menyambut kedatangan mereka.
            Hanya sebentar saja acara lamaran itu. Berbasa-basi kemudian ucapan kalimat lamaran dari pihak keluarganya. Merundingkan tanggal pernikahan. Diakhiri dengan makan bersama.
            Dua bulan lagi, itulah hasil perundingan waktu pernikahan. Semoga benar menjadi waktu yang telah ditetapkan Allah. Dan aku mulai membayangkan betapa repotnya kelak menjelang hari pernikahan. Terlalu memusingkan mengatur acara pernikahan. Maka aku melimpahkan urusan ini pada salah satu adik perempuanku, Yana.
Ku percayakan semuanya pada dia. Akan kuserahkan sejumlah uang padanya untuk mengatur segala kebutuhan. Karena pada hari itu aku harus menyambut tamu-tamu. Lagipula aku sudah semakin tua dan lemah untuk menjadi pengatur utama di acara pernikahan anakku. Sudah tak sesehat dan selincah dulu.
***

Sebulan menjelang pernikahan anakku. Aku tetap saja sibuk meski melimpahkan pada Yana. Belanja untuk acara besok. Memilih kebaya untukku dan batik untuk seragam saudara-saudaraku. Maklum, saudara kandungku banyak dan ditambah saudara suamiku.
“Bu, buat acara pernikahannya, Mbak Nindi bantu Ibu nggak untuk biayanya?” anak keduaku, Aneysa Puspitasari, bertanya padaku saat kami hendak pergi belanja.
“Nggak tahu Ney, terserah Mbakmu saja. Ibu sih sudah siapkan semuanya. Kalau Mbakmu bantu yang syukur alhamdulillah. Tapi kalau tidak ya tak apa-apa. Ibu ikhlas dan tak mengharap dari dia.”
“Emang Mbak Nindi nggak nabung untuk biaya pernikahannya Bu? Bukannya Mbak Nindi udah kerja jadi PNS hampir setahun?”
“Tidak tahu Neysa. Ibu juga tak akan menanyakannya pada Mbakmu. Jika memang tak menabung untuk biaya pernikahan, mungkin karena kebutuhannya banyak atau untuk persiapan setelah menikah. Sudah, kita berangkat sekarang, semua sudah kumpul.” Jawabku mengakhiri perbincangan yang bisa mengarah ke suudzon. Aku tak mau Neysa berfikir negatif pada kakaknya.
Kami belanja baju batik dan kebaya. Sesungguhnya uangku tak terlalu banyak. Sehingga baju seragam untuk saudara-saudara dekat hanya batik saja, yang lebih miring harganya. Karena kebutuhan lain juga besar. Harus berhemat.
“Bu, aku beli kebaya ini ya? Agak mahal sih...” Neysa berkata sambil menunjukkan kain kebaya warna pink.
“Iya Neysa... beli saja.” Jawabku lemah, rasanya begitu lelah berjalan memilih baju batik dan kebaya.
Aku juga harus membelikan kebaya Ibuku. Semua harus bahagia dengan baju baru. Berpenampilan baik di hari bahagia anakku. Akan kuberikan sebisaku untuk menyempurnakan hari terpenting Nindi.
“Mbak, semuanya udah dihitung, segini jumlah uangnya.” Yana menunjukkan struke harga batik yang dibeli.
“Ya cepet bayar, kan kamu yang bawa uangnya.” Balasku dan semua dibayar. Kebayaku, ibuku, Neysa, baju batik suamiku dan semua batik saudara-saudaraku.
Persiapan pertama selesai. Sebenarnya ini persiapan kami. Bukan persiapan yang sebenarnya. Yah, semoga semua lancar.
***
Seminggu sebelum pernikahan anakku. Persiapan rumah hampir selesai. Sudah sebulan lalu kami sekeluarga berbenah rumah. Aku tinggal bersama ibuku. Beliau masih kuat untuk membantu kami membabat rumput di halaman belakang. Bersyukur aku tinggal dekat dengan saudara-saudaraku. Masih satu dusun, walau agak jauh rumahnya. Sedangkan saudara lain berbeda desa, namun tak  terlalu jauh. Sehingga mereka dengan senang hati membantuku.
Halaman belakang rencananya digunakan untuk memasak. Perlu diberi terpal untuk memayungi agar tak panas. Halaman depan tentu saja untuk acara penikahan. Kursi-kursi tamu dan singgasana pengantin. Tidak ada masalah dengan halaman depan. Sudah di semen sejak lama. Sejak menjadi lapangan badminton yang sekarang tidak digunakan lagi.
Rumah yang telah berwarna hijau, kami cat lagi dengan warna hijau. Agar semakin terlihat bersih dan cerah.  Atap yang bocor kami perbaiki. Kami juga meninggikan atap yang rendah agar tak mengganggu saat dilewati banyak orang. Juga atap di kamar mandi yang awalnya berupa seng, kami ganti dengan asbes.
Bahkan kamar ibuku yang disamping ruang tamu, dibongkar. Agar lebih lapang ruangan yang rencananya kami gunakan untuk tempat prasmanan. Besok kalau sudah selesai acara, kamar ibu dipasang lagi. Mudah, karena berasal dari triplek satu sisinya.
Perabotan yang berada di ruang tamu tentu harus diungsikan seminggu ke depan. Sofa dititipkan ke tetangga seberang jalan yang lebih luas rumahnya. Lemari bufet besar dipindah ke dapur. TV ditaruh di kamar Neysa.
Apalagi? Banyak lagi tentunya yang lain. Semua pekerjaan berat itu dikerjakan lelaki, saudara dan tetangga. Beruntung sekali aku hidup di desa yang masih kental gotong royongnya. Terlebih di tanah kelahiranku, Wonosari, Yogyakarta. Orang-orang yang memegang jiwa kebersamaan dan kekeluargaan. Tanpa balasan. Diiringi jiwa tolong menolong. Ketulusan dan keikhlasan.
Persiapan berikutnya adalah masakan. Ibu-ibu mulai memasak di 5 hari menuju pernikahan anakku. Selain untuk para pekerja yang membantu membereskan rumah, juga membuat makanan untuk acara.
Hm... aku benar-benar bersemangat dengan persiapan demi persiapan acara pernikahan anakku. Ini adalah kali pertama aku menikahkan anakku. Memang bukan aku yang menjadi pengaturnya. Aku hanya dimintai pendapat untuk beberapa hal yang adik-adikku kurang yakin pada rencana mereka. Sesuai keinginanku dan yang kuanggap baik.
Sedangkan Nindita tak ikut mengatur. Dia hanya konsen pada persiapan dirinya sendiri. Menjadi pengantin yang cantik.
Sebenarnya, ada hal kecil yang mengganjal hatiku. Beberapa tetanggaku berkata bahwa pernikahan ini sedikit mewah di desa kami. Aku juga mendengar mereka menyangka aku punya banyak uang. Aku diam saja. Tak perlu ku beberkan semuanya. Tak perlu mereka atau Nindita sekalipun, tahu bahwa uang yang aku gunakan adalah pinjaman. Dari saudara-saudaraku juga sekolah tempatku bekerja sebagai guru. Sedangkan suamiku yang telah pensiun, menyewakan sepetak sawahnya. Sawah yang biasa ia urus sendiri sebagai ganti pekerjaan PNSnya.
Biarlah ini menjadi rahasia kami. Suatu saat pastilah terbayar hutang ini. Biarlah mereka berkata apa. Bagiku sekarang adalah kebahagiaan anak ku. Tak perduli ia memberi materi atau membalas pemberianku atau tidak. Kebahagiaan orangtua terletak pada kebahagiaan anak.
***
Hari H telah tiba. Setelah kemarin acara munjung atau mengirimkan kardus berisi makanan. Tamu dari tetangga dekat banyak yang datang kemarin. Hari ini adalah puncak acara pernikahan. Ijab kobul dan resepsi pernikahan.
Aku dan semua saudaraku wanita, telah berdandan cantik. Kami siap menerima tamu-tamu yang datang. Dari teman-temanku dan suamiku juga teman-teman Nindita.  Neysa dan Odi, anak ketigaku, menjadi pengiring pengantin. Mereka terlihat cantik dan tampan dengan dandanan yang Jawa. Tentu yang tercantik adalah Nindita, dengan kebaya putihnya. Dia bagaikan putri dalam dongeng yang selalu digambarkan sangat cantik dan ceria.
Dan, sekarang lah saatnya. Ijab qobul. Kami duduk hening menyaksikan suasana sakral ini. Suamiku diantara Nindi dan Cahyo. Di depannya ada penghulu. Karena suamiku gugup, maka ia baca kalimat itu.
Kulo nikahaken lan kulo jodohaken panjenengan kalihan putri kulo Anindita Gayatri binti Argo Susilo kanti maskawin seperangat alat sholat kaliyan arto kalih yuto sekawan atus ewu rupiah, ingkang sampun kabayar kontan.1
Lalu giliran Cahyo. Ia pun mungkin gugup sehingga membaca juga,
Kulo tampi nikahipun Anindita Gayatri binti Argo Susilo putri bapak kangge kulo piyambak kanti mas kawin kasebat kontan.2
“Sah?” penghulu bertanya pada saksi yaitu saudara dari pihak kami dan pihak Cahyo.
“Sah...” ucap mereka berbarengan dan kami pun ikutan ucap sah.
Alhamdulillah... resmi sudah anakku menjadi seorang isteri, yang bakti utamanya kini pada suaminya. Anak perempuanku yang pertama bukan lagi menjadi tanggunganku. Ia telah menjadi milik suaminya. Bukan lagi milikku... Haru rasa hatiku. Seolah melepasnya pergi sangat jauh dari rumah. Dari keluarga kami.
Kemudian acara dilanjutkan ke acara adat. Pengantin berdua berganti pakaian. Dan acara adat jawa pun berlangsung. Dari balangan suruh3, wiji dadi4, kacar kucur5 dan dhahar klimah6.
Setelah dua pengantin duduk di kursi pengantin dan kami sebagai orangtua pun duduk, acara sungkeman dilakukan. Mengharukan kembali menghiasi nuansa bahagia. Putriku yang sangat kusayang memohon restu untuk menjadi seorang isteri yang baik dan berbakti pada suami. Meminta doa agar bisa membentuk keluarga yang sakinah.
“Iya putriku, Ibu akan selalu mendoakanmu. Semoga bisa menjadi isteri shalih. Keluargamu bisa sakinah, mawadah, rohmah dan konaah...”
“Amin...” kami saling berpelukan dengan air mata menetes.
Ah... benar-benar lengkap menjadi seorang Ibu. Mengantarkan anaknya hingga pernikahan. Tugasku sebagai orangtua seakan telah tunai sudah dengan pernikahan putriku. Aku dan suamiku adalah orangtua paling bahagia saat ini. Betapa tidak, putri kami begitu bahagia dengan acara pernikahan ini.
***
Epilog
Acara pernikahan putriku sungguh-sungguh lancar dan membahagiakan. Alhamdulillah... semua bahagia dan tak ada cela. Sekarang, tiga hari setelah pernikahan, Nindi tinggal di rumah suaminya. Kami pun telah berbenah rumah. Semua kembali semula.
“Bu, bentar lagi ujian, mesti lunasin pembayaran kuliah. Kan kemarin baru bayar setengahnya. Jadi jangan lupa kasih aku uang ya Bu.” Neysa berkata padaku yang sedang santai di teras.
Ah... memang belum tunai tugasku sebagai orangtua. Masih ada Neysa dan Odi. Mereka masih kuliah. Masih panjang perjalanan mereka. Perjalananku sebagai orangtua. Itupun kalau kami masih ada umur. Hingga mereka pun menikah seperti Nindi.



Keterangan

11.   Saya nikahkan dan jodohkan anda dengan putri saya Anindita Gayatri binti Argo Susilo dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang  dua juta empat ratus ribu rupiah yang sudah dibayar kontan.
22.   Saya terima nikahnya Anindita Gayatri binti Argo Susilo, putri Bapak untuk saya sendiri dengan mas kawin tersebut kontan.
33. Saling melempar daun suruh oleh kedua pengantin sebagai wujud membuang roh jahat atau keburukan.
44. Pengantin pria menginjak telur mentah dan pengantin wanita membasuh kaki pengantin pria dengan air kembang, sebagai wujud suami bertanggungjawab kepada isteri dengan baik akan menghasilkan keturunan yang baik pula.
55. Memberikan kacang, kedelai, padi dan lainnya sebagai perlambang suami memberikan penghasilannya kepada isteri dan isteri menerima denga baik.
66.  Kedua pengantin saling menyuapi, melambangkan keduanya menimati setiap apa pun dan saat apa pun dengan bersama berdua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Komentari Tulisanku Sobat...

Entri Populer

Pengikut