Selasa, 15 Januari 2013

Ketulusan dan Empati untuk Mereka

Salam Sahabat... Mau menuliskan tentang hal yang menjadi masa depanku, dengan hati (wih, udah kayak lagunya Lyla aja...) Oke, mari aku mulai. Tadi aku mendengarkan perbincangan bapak-bapak tentang pekerjaannya. Ada seorang bercerita pernah menawarkan mesin penjawab telepon pada sebuah RS Swasta di Jogja. Jawaban yang didapat adalah, "Terima kasih, tapi maaf Pak, ini kan rumah sakit yang menerima orang sakit. Seseorang yang sakit itu akan lebih terasa dihargai dan lebih ringan ketika yang menjawab telepon atau menerima dia di rumah sakit adalah manusia yang ramah." Kira-kira begitulah kalimatnya, lalu bapak itu langsung menyadari dan membenarkan. Orang yang sakit itu hanya perlu diperhatikan dan disayangi, dihargai untuk bisa menyemangati hati dan fisik yang sakit.

Tentu saja. Keadaan positif dana lingkungan yang sehat juga menyenangkan itu sama pentingnya dengan obat yang digunakan. Atau bahkan obat yang mujarab... Tak heran kan setiap rumah sakit selalu menempelkan slogan-slogan atau moto rumah sakitnya dengan kalimat, hati yang gembira adalah obat. Senyum, sapa, salam yang hangat menumbuhkan perasaan sehat. Bukan pasien yang membutuhkan kita, melainkan kita yang melayani dan menyenangkan pasien... Semacam itulah. Semuanya agar pasien selalu berjiwa positif yang mempercepat kesembuhannya...

Aku jadi teringat dengan ucapan dosen yang mengatakan, "Coba lihat atau datang ke Bank-Bank atau hotel-hotel besar, ketika masuk kalian akan disambut dengan sapa dan salam yang hangat. Tak ketinggalan senyum ramah. Itu Bank atau hotel lho, yang notabenenya orang-orang yang datang kesana adalah orang sehat atau bahkan senang. Bandingkan dengan Rumah Sakit yang disitu adalah banyak orang sakit, yang seharusnya lebih membutuhkan salam sapa senyum hangat seperti itu. Mereka sedang sakit dan menderita. Namun ketika diberi keramahan dan perhatian yang tulus, insya Allah hati mereka pun lebih bahagia."

Benar... aku sendiri pernah menjadi yang menerima atau memberi senyum untuk pasien rasanya ikut bahagia melihat senyum mereka. Rasa terima kasih dan harapan yang dipancarkan mereka, begitu menyentuh. Membuatku ingin selalu memberikan ketulusan dan perhatian kepada mereka yang sakit. Karena aku juga jika sakit akan lebih senang ketika datang ke Rumah Sakit dan disambut senyum ramah yang tulus oleh petugas disana. Sebaliknya, jika disambut dengan muka biasa atau bahkan muka lelah dan masam, uh... sakitnya makin sakit. Gitu juga kan Sahabat...



Jadi, aku yang sebentar lagi PKPA harus mempersiapkan hati yang tulus ketika bertemu pasien kelak. Memberikan perhatian dan keramahan pada mereka. Mencoba memahami dan merasakan kondisi pasien, seperti yang dikatakan dosen lainnya, "Kalian itu harus melihat kondisi pasien yang sebenarnya, pahami dan rasakan. Jangan hanya melihat penyakit yang diderita dan memberikan obat sesuai gejala dengan sekenanya. Lihat dan pahami benar-benar bagaimana kondisi pasien. Nggak hanya simpati, tetapi empati. Merasakan keadaan yang dialami pasien, lebih peka." Mengajarkanku betapa harusnya kita melihat penyakit itu juga dari sisi pasiennya, apakah suatu obat akan baik atau sesuai benar untuk pasien atau tidak. Tak mudah memang menumbuhkan empati. Harus melalui proses yang terus menerus dan hati yang tulus ikhlas.

Semua itu akhirnya bermuara pada hati yang tulus dan empati sangat perlu dimiliki oleh petugas kesehatan... Aku, yang akan menjadi apoteker yang bersinggungan dengan pasien (harapan besar) harus bisa menempatkan diri dengan benar. Bersikap yang baik pada pasien. Melakukan tugas dengan hati yang ikhlas...

Uh... rasanya tak sabar ingin menjadi bagian dari orang-orang yang melakukan untuk mereka... Memberi perhatian dan keramahan. Semoga PKPA kelak pun aku bisa mencoba memulai menjadi sesorang untuk mereka... :) Karena aku ingin sekali berbagi... rasanya akan menjadi dua kali lipat lapangnya... ^ ^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Komentari Tulisanku Sobat...

Entri Populer

Pengikut