Hari
ini hari penting dalam hidupku. Pertama kalinya dalam hidupku. Hampir lengkap
kisahku sebagai orangtua. Anak ku akan dilamar. Gadisku yang pertama sudah
sangat dewasa dan akan dipinang oleh pangerannya.
Rasanya
baru kemarin aku mendengar teriakannya lantaran kuliahnya yang sulit. Dan baru
kemarin aku menghadiri wisudanya. Juga kebahagiaan dia diterima menjadi PNS.
Sungguh seperti baru tadi malam saja. Sekarang dia sudah siap untuk melanjutkan
hidupnya ke dunia yang baru.
Anindita
Gayatri, nama putri sulungku. Meski sifatnya kadang pemarah dan sangat keras,
tetapi dia sangat menyayangi keluarganya. Dia seorang anak yang berbakti. Anak
sekaligus kakak yang hebat.
“Bu,
rombongan Mas Cahyo sebentar lagi sampai.” Suara Nindita membuyarkan lamunanku.
“Iya.
Semua sudah siap kan?” Nindita mengangguk dengan senyum menjawab pertanyaanku,
aku balas tersenyum.
Benar
saja, beberapa menit kemudian rombongan lamaran dari keluarga Cahyo tiba di
rumah kami. Kami yang telah siap sejak tadi, segera menyambut kedatangan
mereka.
Hanya
sebentar saja acara lamaran itu. Berbasa-basi kemudian ucapan kalimat lamaran
dari pihak keluarganya. Merundingkan tanggal
pernikahan. Diakhiri dengan makan bersama.
Dua
bulan lagi, itulah hasil perundingan waktu pernikahan. Semoga benar menjadi
waktu yang telah ditetapkan Allah. Dan aku mulai membayangkan betapa repotnya
kelak menjelang hari pernikahan. Terlalu memusingkan mengatur acara pernikahan.
Maka aku melimpahkan urusan ini pada salah satu adik perempuanku, Yana.
Ku percayakan
semuanya pada dia. Akan kuserahkan sejumlah uang padanya untuk mengatur segala
kebutuhan. Karena pada hari itu aku harus menyambut tamu-tamu. Lagipula aku
sudah semakin tua dan lemah untuk menjadi pengatur utama di acara pernikahan
anakku. Sudah tak sesehat dan selincah dulu.
***
