Minggu, 22 Juli 2012

Hikmah Sakit

Merenungi tentang makna rezeki. Aku sudah paham bahwa rezeki tak selalu uang dan uang hanya sebagian kecil, sangat kecil dari satu macam rezeki yang diberikan Allah. Semua yang membuatku hidup normal, itulah rezeki dari Allah. Semua yang membuatku bahagia dan tersenyum, itulah rezeki dari Allah. Semua yang meningkatkan keimanan dan ketakwaanku, itulah nikmat terbesar dari Allah. Tak akan sanggup aku sebutkan satu persatu hingga seperempat saja rezeki dan nikmat Allah untukku. 


Namun, ketika sakit itu datang, aku sedikit complain. Kenapa aku harus sakit ini dan itu? Padahal aku berusaha menahan nafsu perutku. Aku merasa ada yang tak tepat padaku. Aku sedih dengan sedikit tak normalku. Aku takut dan khawatir tentang penyakitku. Akan sampai kapan? Apakah akan bertambah parah? Aku takut membayangkannya. Organ-organ pencernaanku sepertinya ada yang tak berjalan baik. Seolah meneriakiku, makanlah sedikit saja, jangan berlebihan, harus halal dan berkah, jangan aneh-aneh! Membuatku bertanya sendiri, apakah aku sekejam itu? Sedikit membela diri dengan berkata, aku tak makan yang aneh-aneh atau mahal, aku jarang makan di tempat-tempat mereka makan dan aku berusaha mensyukuri makananku yang sederhana. Aku berusaha menjaga apa yang kumakan. Tapi, itu seolah menjadi kesombonganku dan kelalaianku yang membuatku kadang memakan banyak yang kusukai dan menjadikanku sakit. Aku akan kembali sedih dengan kesakitanku. Pertama lambung, lalu anus dan terakhir gigi. Esok apalagi yang akan terluka? Aku seolah selalu berbuat salah dan menyakiti mereka hingga diriku sendiri pula yang harus menanggung akibatnya. Aku, separah itukah tabiatnya yang buruk? 

Ya Allah, sungguh tak pernah ada maksud melukai organ-organ ciptaanMu. Apakah ini artinya aku tak boleh sedikit saja makanan-makanan yang kusukai? Atau aku terkadang berlebihan memakannya hingga Engkau menyadarkanku lewat sakitku? Semua bercampur menjadi aneka pedih. Menyeret pikiranku pada rezeki sehat yang tak kudapatkan. Kehilangan nikmat sehat dan harus membayar mahal harga sakit, perih rasanya hatiku. 

Namun aku tak boleh berlarut dalam kesedihanku. Tak boleh memperpanjang complainku. Bukankah aku tahu semua yang Allah berikan padaku adalah kebaikan? Aku harus memahami bahwa sakitku adalah kehendak Allah yang merupakan kebaikan Allah padaku. Mungkin lewat sakitku, aku semakin merasa lemah tak berdaya di hadapan Allah hingga sombong sehalus apa pun tak kan hadir di hatiku. Mungkin karena sakitku, aku selalu memohon memelas kepada Allah di akhir sholat dan malam sunyiku. Mungkin dengan sakitku, Allah membuatku selalu berdzikir kepadaNya. Allah sungguh baik bukan dengan meraih tanganku dan perlahan menarikku kepada cintaNya? Maka, nikmat Tuhanmu yang mana lagi kah yang kau dustakan? Nikmat sehat mungkin sedikit berkurang, namun Allah menggantinya dengan nikmat yang lebih indah luar biasa, cinta kepadaNya. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi kah yang kan kau dustakan? Ketika aku  mengeluh karena merasa tak dapatkan rezeki berupa kesehatan, jauh di satu sudut hatiku terus menyemangatiku untuk berprasangka baik kepada Allah, membuatku kuat dan percaya kembali kepada Allah. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan? Bahwa sakitku ternyata membuatku menjaga makanku dan lebih berhati-hati pada yang kumakan, sehingga aku lebih mendapat berkah dari makananku. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kan kau dustakan? Sungguh, sejuta hikmah dapat kuraih jika hatiku bersih dan yakin kepada Allah. Sejuta hikmah dari sakit-sakitku… Maka nikmat Tuhanku yang mana lagi yang kan kudustakan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Komentari Tulisanku Sobat...

Entri Populer

Pengikut