Rabu, 28 November 2012

Renungan Hati yang Melembut

Ketika hati tengah melembut dan mengingat hakikatku sebagai makhluk yang lemah, adalah saat yang tepat untuk meresapkan dan mengingat kembali kebaikan dan kesadaran yang lain. Tentang ajal. Aku membaca tulisanku yang kutulis waktu Ramadhan kemarin. Sebagai perenungan kembali.


Kemarin pagi aku mendapat kabar dari sahabat yaitu kabar duka. Dosenku meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun… Saat itu aku tengah mengepel lantai dan hanya kaget sesaat karena aku melanjutkan pekerjaanku. Sesaat saja dzikrul mautku. Selintas saja pula pikiran waktu ajalku pun mendekat. Benar, daftar nama-nama manusia yang dicabut nyawanya akan semakin ke bawah. Mendekat kepada namaku. Pagi ini aku berusaha merenunginya. Benar-benar mengetuk sendiri pintu hatiku. Seolah mendapat pernyataan, giliranmu semakin dekat. Daftar itu benar semakin memendek setiap tercabutnya satu nyawa. Memendek ke arahku. Daftar nama kita masing-masing. Dan aku sungguh tersadarkan mengingat dosenku itu adalah ibu muda yang terlihat baik-baik saja beberapa bulan terakhir. Ah, jangankan beberapa bulan, semenit sebelumnya baik pun jika telah takdirnya akan tercabut jua nyawa. Jangankan ibu muda, anak kecil dan bayi pun banyak yang telah dipanggil Allah. Apalagi diriku yang berusia dewasa dan banyaaak dosa. Ajal sungguh sebuah rahasia besar yang menakutkan. Tak mengenal usia, keadaan, keimanan dan kesiapan. Ia akan datang dengan tegas dan tanpa ampun! Demi Allah, sudah pasti kematian yang akan datang kepada kita. Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan dan percepatan sesaat (Al-A’raf : 34). Lalu kenapa aku masih juga bersantai… duhai diri… sadarlah bahwa perbekalan masih sangat sedikit… bagaimana akan minum ketika dahaga, bagaimana akan makan saat lapar dan bagaimana akan berteduh di waktu panas, jika tak ada perbekalan yang banyak dan lengkap untuk perjalanan panjang di padang ma’syar? Sadarlah diri saat ini tengah menapaki ramadhan nan mulia, penuh kesempatan dan melimpah berkah. Kenapa masih juga bersantai? Bagaimana jika daftar itu hanya berjarak beberapa nama dariku? Celaka! Bagaimana ketika aku tengah melakukan kesia-sian dan kemalasan ajal datang? Celaka! Demi Allah, tak ada jaminan yang bisa dipertaruhkan ketika ajal tiba-tiba datang dan kita sedang lakukan hal buruk. Ya Allah, hati ini hanya bisa merinding membayangkan dan beristghfar memohon agar tak terjadi padaku. Semua pasti menginginkan khusnul khatimah… dan itu hanya terjadi jika sehari-hari pun baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Komentari Tulisanku Sobat...

Entri Populer

Pengikut