Kamis, 08 November 2012

Menghargai Proses

Mengingat lagi tema ini. Bukan, tetapi diingatkan lagi... karena aku sering melalaikannya. Tentu oleh Allah SWT, yang maha menyayangi... Padahal dulu pernah jadi slogan hidupku, "Allah tidak berorientasi pada hasil, tapi Allah melihat proses perjuangan kita." Kira-kira seperti itu moto hidup ketika aku SMA/

Bahkan ketika kuliah aku sering sekali menyadari hal ini. Bahwa hasil bukan segalanya. Aku memang mengiyakan dan melakukannya. Tak patah semangat saat hasil yang direncanakan tak terwujud. Pasti ada hikmah dibalik semua itu. Aku meyakinkan hati. Hikmah yang menjadi pemahaman dan pengetahun untukku. Pelajaran penting. Petunjuk.

Sayang disayang, aku adalah orang yang mudah lalai. Mudah tersulut. Dan mudah terhempas. Lemah. Ketika ada banyak hal yang sudah ku usahakan dengan keras, dan aku mendapatkan hasil yang tak setimpal, aku menyerah... Satu dua kali sampai beberapa kali hasil itu tak memuaskan aku menerima. Menyadari bahwa aku harus berjuang lebih keras lagi. Tapi saat perjuangan itu semakin panjang dan aku belum juga melihat hasil yang kudamba, aku seolah menanggung beban berat di hatiku. Merasa aku begitu lemah hingga perjuanganku hanya sebaas itu saja. Aku terlalu bodoh dan buruk untuk melakukan usaha yang lebih besar. Akhirnya aku menyalahkan diri sendiri. Lebih parah lagi aku putus asa. Enggan dan membenci melakukan perjuangan lagi. Yah, manusia...



Kemudian ada sedikit bisikan yang membesarkan hatiku bahwa aku sudah berusaha dengan baik. Allah maha melihat. Allah juga mencatat setiap usaha yang kita lakukan. Kemudian memberikan balasan yang sesuai. Karena aku bergerak. Aku telah mengupayakan sesuatu. Tak hanya berdiam diri dan banyak memikirkan. Aku benar-benar berusaha. Berusaha mendapatkan ilmu, melaksanakan sesuatu meski berat dan berusaha menjadi orang yang baik. Berusaha sabar, berusaha ikhlas, berusaha taat... Meski hanya kecil, aku telah berusaha. Sebuah penenang bagiku yang merasa rendah.

Kadang aku benar-benar merasa telah melakukan usaha yang maksimal, tetapi kenapa akhirnya selalu buru? Sisi gelap hatiku protes. Aku sedikit tersulut dan benar-benar tak ikhlas pada hasil yang terjadi. Hingga kemudian aku diingatkan lagi bahwa Allah menghargai proses yang kita lakukan, bukan hasil yang kita dapatkan. Proses adalah dari kita (atas ijin Allah), sedang hasil adalah sepenuhnya dari Allah. Perjuangan yang kita lakukan, seluruhnya tak terlewatkan, akan ada perhitungannya di sisi Allah. Sungguh, aku percaya sepenuh hati. Karena tak ada yang sia-sia dari kehendak Allah dan suatu kejadian yang dikehendaki Allah. Usahaku, nyata bermakna untukku.

Mungkin dari pandangan orang lain hasil itu lebih penting, seolah menunjukkan bagaimana usaha yang kita lakukan. Biarkanlah... Terima dengan hati lapang. Usahlah kita sedih dengan pandangan atau bahkan komentar sampai cacian mereka. Karena Allah lebih tahu dari mereka tentang semua perjuangan yang kita lakukan. Pandangan Allah lebih benar dan lebih berarti daripada pandangan mereka yang hanya seorang makhluk. Sang Maha Pencipta kita yang paling mengetahui segala kebaikan yang kita lakukan. Mengetahui isi hati dan tekad kita. Jadi, masih mau memperdulikan pandangan mereka atau mungkin pandangan kita sendiri yang merendahkan kita, usaha yang kita lakukan. Janganlah Najmi... juga Sahabat semua...

Satu kisah yang membuatku tersadar betul bahwa hasil itu sungguh diluar batas kita dan bukan hal utama yang manjadi pusat perhatian. Ketika Siti Hajar yang berlari-lari di padang pasir mencari air untuk bayinya, Ismail. Berbolak balik dari bukit Shafa dan Marwa hingga 7 kali. Ia hanya bisa berusaha dan percaya kepada Allah, berdoa. Apa yang ia dapatkan? Hasilnya tetap nihil, tak ada air di gurun pasir yang panas. Tapi apa, Allah memberikan hasil dari sesuatu yang tak disangka atau dipikirkan dan diharapkan sekalipun. Air muncul dari pasir yang dihentak-hentakan oleh kaki Ismail. Subhallah... Sungguh hasil itu tak ada hubungannya dengan usaha yang dilakukan Siti Hajar. Begitulah cara Allah menghargai proses. Memberikan hasil dari arah yang tak terduga.

Kita fokus bahwa proses ini akan berakhir pada hasil itu. Dan usaha yang kita lakukan akan mendapatkan hasil yang kita inginkan. Padahal mungkin bukan demikian rumusnya. Bisa saja Allah memberikan hasil di titik Z disaat kita menyangka hasil ada di titik J. Mungkin hasil yang dikehendaki Allah dari arah barat sementara kita mengira dari arah selatan karena kita berproses ke selatan. Atau mungkin bisa jadi hasil itu disimpan Allah dan ia menanti kita di akhirat kelak, bukan di dunia seperti yang kita inginkan.

Ayolah Najmi, jangan fokus pada hasil. Baik hasil dari usaha kerasmu menjadi apoteker. Perjuanganku menjadi penulis. Maupun hasil dari prosesku menjadi wanita sholehah yang sebaik-baik manusia. Sisihkan saja hasil-hasil itu semua. Sekarang adalah saat menikmati proses. Melakukan usaha, perjuangan dan setiap tahapan dengan sungguh-sungguh dan niat tulus. Mencoba untuk menghargai proses yang aku lakukan. Berdamai dengan ambisi diri. Mulai untuk menyayangi tubuh dan hati ini, yang telah melakukan banyak hal untuk terus berproses. Membuang jauh segala benci dan kecewa yang hadir ketika hasil itu adalah kosong atau datar. Saatnya untuk tersenyum di tengah kerasnya usaha dan perjuangan dalam proses ini. Karena Allah lebih menghargai proses daripada hasil yang kita dapatkan. Karena hasil itu adalah kuasa Allah, yang berisi banyak makna.

“Barangsiapa bersungguh-sungguh, sesungguhnya kesungguhannya itu adalah untuk dirinya sendiri.” (QS Al-Ankabut [29]: 6)

"Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh balasannya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. (Al-Muzzammil : 20)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Komentari Tulisanku Sobat...

Entri Populer

Pengikut