Senin, 14 Januari 2013

Penantian di Sore

Seberapa Pantas Kau Kunantikan Akhi,,,???

Akhi..Penantian panjang untuk menunggu akan aku lewati hanya untukmu, meski seribu kebimbangan menghantuiku,
meski ribuan keraguan menjelma atas janjimu.
Aku hanya takut, benarkah kau pantas untuk ku nanti?
Akhi..Ku sembunyikan hati ini untuk memilih menantimu karena ku tahu aku sangat mencintaimu.

Namun bukan berarti cinta ini mampu membutakanku agar aku menerima ketidak pastian.
Aku hanya tak tahu, benarkah kau pantas untuk ku nanti?
Akhi..Senyumku ini akan ku leburkan bersama dakwah bersama pendamping yang mampu menuntunku pada Illahi.
Bagaimana aku sanggup untuk tahu bahwa kau adalah seorang yang tepat untukku, sedangkan kau sendiri pun tak tahu.

Berilah aku jawaban, benarkah kau pantas untuk ku nanti ?
Akhi..Bersamamu ku sadari hati ini ingin menetap, hingga waktu memberiku jawaban bahwa kau adalah pemilik hati ini.
Namun sadarilah, bila aku harus tetap menanti sedangkan kau pun tak tahu sampai kapan aku harus menanti, hati terus mengusik kesadaranku.
Maka pastikanlah jawabanmu,
benarkah kau pantas ku nanti?

Bila kau memang pantas aku nantikan, ijinkan aku memintamu untuk segera meminang ku dalam kesendirian.
Jangan biarkan aku dalam ragu, yakinkanlah hatiku. Bila kau memang pantas aku nantikan, segera palingkan aku dalam kepahitan janji. segeralah datangi kedua orang tuaku, jangan kau terus biarkan aku menanti dengan alasan-alasan yang tak pernah aku mengerti.
Bila kau memang pantas aku nantikan, biarkan cinta yang ada di hatimu tersimpan rapat sebelum kau halalkan aku. Jangan kau impikan aku dengan cintamu.
Copas dari group di fb, mantap bukan... sedang galau kah... tidak, cuma sedang ingin berbagi aja pada Sahabat semua yang lagi galau... Kukira judulnya itu kayak lagunya Sheila on 7, hihi... Sudah ah, makin ngelantur ntar.

Jumat, 11 Januari 2013

Yakin dan Bergantung Kepada Allah

 Kesadaranku yang satu ini, seperti selalu samar untukku. Tapi tidak untuk kemarin, sekarang dan esok. Aku harus benar-benar menyadari hal penting tentang keimanan. Ingin dan cita terwujud adalah karena tiga hal : doa, ikhtiar dan tawakal. Maka kasih sayang Allah akan mengabulkan harapan kita.

Tetapi apa, dulu aku bahkan hanya ada pada ikhtiar. Doa kurasa hanya pelengkap. Menggantungkan sepenuhnya keberhasilan pada usahaku. Sama saja ini tak ada iman! Bahkan bisa syirik, naudzubillah. Kemudian aku memahami arti doa. Bahwa hanya Allah yang bisa mengabulkan setiap permintaan dan mewujudkan keinginan. Tak asal doa, tapi sepenuhnya menggantungkan harapan kepada Allah. Namun, ketika lagi dan lagi ingin juga citaku tak terwujud, aku merasa putus asa. Menyerah dan takut untuk menginginkan sesuatu, bahkan takut berdoa karena dalam doaku seringkali terselip pemaksaan kepada Allah dan berisi keinginan yang belum tentu baik untukku. 

Ternyata dibalik semua itu, ada yang lebih penting, tawakal. Sungguh menyerahkan segala akhir, hasil dan penyelesaian kepada Allah. Entah seperti apa, yakin! Yakini bahwa itulah yang terbaik untukku. Seperti ketika aku ujian labskil, aku sudah belajar walau belum maksimal dan saat ujian aku kesulitan. Hanya berdoa dan yakin Allah akan memudahkan yang kupanjatkan dalam hati. Lalu aku berpasrah dengan hasil yang diberikan Allah. Berusaha ikhlas dan mempersiapkan hati. Akhirnya? Aku mendapatkan hasil yang baik, subhanallah… Jadi keberhasilan itu bukan karena usaha kita, doa dan tawakal lebih kuat. Semua karena kemurahan dan kasih sayang Allah… 

Sekali lagi, harus sadar bahwa usahaku bukanlah penentu keberhasilan. Doa jangan memaksa dan jangan pernah bosan. Akhirnya tawakal kepada Allah dengan lapangkan hati untuk menerima keputusan Allah, entah itu sesuai harapan atau tidak. Karena hanya Allah yang maha mengetahui tentang diri kita, kehidupan kita dan kehidupan sekitar yang terhubungkan oleh ketetapan Allah atas hasil yang kita dapatkan. Allah sungguh maha memperhitungkan, tak meleset atau terlewat sekecil apa pun. Allah telah mengatur segalanya hingga detailnya. Jadi harus ikhlas dan syukuri semua hasil yang diberikan Allah. Insya Allah banyak hikmah yang tersimpan di balik kejadian-kejadian itu, baik yang telah lalu, yang dijalani atau yang akan datang. Kalau kita pandai mengambil hikmah, pasti akan melihat keindahan rencanaNya untuk kita.

Kamis, 03 Januari 2013

Semangat dari Lagu

Sahabat, kalau dengerin lagu, pilihlah lagu yang bikin kita lebih positif... Bukan malah negatif alias galau, makin kelam dunia kita. Duh... sengsara kuadrat ya. Udah kita lagi sedih dan buntu, malah diiring lagu sendu. Makin suram dijamin. Atau mungkin bagi sebagian orang, justru kalau lagi galau, milih lagunya yang melow. Sesuai katanya. Wah, ada yang kurang pada tempatnya nih!

Sendu ditambah sendu, jadi sendu kuadrat! Harusnya sendu dikurangi dengan semangat, bisa jadi keluaran yang lebih menyenangkan... Secara logika begitu kan. Kalaupun tidak sedih atau galau, jangan juga dengerin lagu-lagu melow mendayu-dayu tentang cinta dan patah hati atau ah, yang bikin suasana terhanyut ke sendu. Pilih dong yang lebih berkualitas... Lagu yang bikin semangaat...

Kayak ni lagu

Sabtu, 29 Desember 2012

MIMPIKU TENTANGMU

Satu persatu saudara-saudara, teman-teman dan tetangga-tetanggamu menunaikan satu terakhir dari yang lima. Apakah tak tergelitik dalam hatimu, Ibuku?
“Ya tentu aja Ibu pengen naik haji.” Jawabanmu setahun lalu ketika iseng kutanyakan padamu.
Entahlah apa ada maksud lebih mendalam dari jawabanmu. Ketika Budhe yang usai pulang haji mengajak agar engkau dan bapak pergi haji selagi masih kuat, engkau hanya jawab,
“Ah, anak-anak masih kuliah. Belum memikirkan.” Itukah kelanjutan jawabanmu yang pertama, Ibu?
Tak tahukah itu petunjuk pertama untukmu ibu. Aku saja merasakannya… Perasaan yang berulang ketika ada budhe yang lain menyuruhku mendukung Ibu untuk pergi haji. Hati ini sungguh bergetar Ibu. Betapa petunjuk kecil ini membuatku selalu mendoakan ibu dan bapak agar bisa yakin untuk memutuskan naik haji.
Waktu berikutnya adalah melihat orang-orang yang sibuk mengurusi keperluan haji. Mendengar teman-temanku membicarakan orangtuanya yang akan berangkat haji. Sungguh aku iri Bu… Iri kenapa Ibu belum juga berangkat haji sementara ibu-ibu temanku sudah. Tidakkah engkau juga iri?
Setahun berlalu tanpa ada pembicaraan menyangkut kewajiban umat muslim bagi yang mampu. Syarat ini bukankah rancu? Mampu. Menurut pandangan siapa? Pandangan orang-orang yang melihat. Pandangan kita yang menjalani? Bagaimana jika ternyata kata mampu ini adalah berdasarkan pandangan Allah. Bukankah sudah banyak bukti orang-orang yang dalam pandangan orang lain tak mampu ternyata bisa berangkat haji. Bahkan dia mengukur kemampuannya sendiri secara logis tak mampu pun ternyata ia bisa.
Pengetahuan dan pemikiran kita terlalu sempit untuk menerjemahkan kata mampu dalam konteks haji. Tetapi kita kebanyakan menjadi sok tahu dengan yang ada pada diri kita. Mengira tak mampu, mengukur tak cukup, merasa tak perlu. Manusia. Apakah Ibu juga termasuk yang seperti itu? Janganlah ibuku sayang…
Maka tahun ini, kita sama tahu dengan keadaan keuangan keluarga kita. Oh tentu engkau yang paling tahu Ibu. Kakak sudah bekerja dan menikah. Aku tinggal satu tahun lagi lulus kuliah. Adikku juga sekitar dua tahun lagi. Bagaimana Ibu, alasan anak-anak masih kuliah bukankah bisa dikesampingkan?
Satu rahasia yang ingin kukatakan padamu, bahwa tiap aku mendengar kalimat talbiyah, aku selalu teringat pada Ibu dan Bapak. Seolah panggilan itu memang benar adanya. Tak hanya sekedar keinginan yang tertahan. Ibu dan Bapak harus segera bergerak. Aku, bolehkan menarik tangan Ibu dan Bapak agar melangkahkan kaki di jalan menaik itu. Berharap aku tak salah memahami petunjuk dari Allah…

Setitik Pengorbanan di Lautan Bahagia


            Hari ini hari penting dalam hidupku. Pertama kalinya dalam hidupku. Hampir lengkap kisahku sebagai orangtua. Anak ku akan dilamar. Gadisku yang pertama sudah sangat dewasa dan akan dipinang oleh pangerannya.
            Rasanya baru kemarin aku mendengar teriakannya lantaran kuliahnya yang sulit. Dan baru kemarin aku menghadiri wisudanya. Juga kebahagiaan dia diterima menjadi PNS. Sungguh seperti baru tadi malam saja. Sekarang dia sudah siap untuk melanjutkan hidupnya ke dunia yang baru.
            Anindita Gayatri, nama putri sulungku. Meski sifatnya kadang pemarah dan sangat keras, tetapi dia sangat menyayangi keluarganya. Dia seorang anak yang berbakti. Anak sekaligus kakak yang hebat.
            “Bu, rombongan Mas Cahyo sebentar lagi sampai.” Suara Nindita membuyarkan lamunanku.
            “Iya. Semua sudah siap kan?” Nindita mengangguk dengan senyum menjawab pertanyaanku, aku balas tersenyum.
            Benar saja, beberapa menit kemudian rombongan lamaran dari keluarga Cahyo tiba di rumah kami. Kami yang telah siap sejak tadi, segera menyambut kedatangan mereka.
            Hanya sebentar saja acara lamaran itu. Berbasa-basi kemudian ucapan kalimat lamaran dari pihak keluarganya. Merundingkan tanggal pernikahan. Diakhiri dengan makan bersama.
            Dua bulan lagi, itulah hasil perundingan waktu pernikahan. Semoga benar menjadi waktu yang telah ditetapkan Allah. Dan aku mulai membayangkan betapa repotnya kelak menjelang hari pernikahan. Terlalu memusingkan mengatur acara pernikahan. Maka aku melimpahkan urusan ini pada salah satu adik perempuanku, Yana.
Ku percayakan semuanya pada dia. Akan kuserahkan sejumlah uang padanya untuk mengatur segala kebutuhan. Karena pada hari itu aku harus menyambut tamu-tamu. Lagipula aku sudah semakin tua dan lemah untuk menjadi pengatur utama di acara pernikahan anakku. Sudah tak sesehat dan selincah dulu.
***

Minggu, 23 Desember 2012

Suka-Sukaku

Di sore yang dingin dan bikin agak males mandi ni, enaknya menghangatkan pikiran dengan melakukan suka-sukaku, semoga bisa menjalar ke tubuh juga hati (ngacobeud).

Tentang apa ya... gimana kalau tentang farmasi? (yah... bakal serius nih, terus juga agak bosen farmasi mulu) kalem, ini bukan yang seperti anda kira. Cerita ini adalah sisi lain dari farmasi--yang aneh nggak jelas.

Istilah Farmasi
Pertama baca slide dosen yang ada kata 'ad' aku bingung, ini apa sih maksudnya... baru tahu pas mata kul preskripsi, tentang bahasa latin, ad artinnya hingga. Kebawa di semua mata kuliah, kata hingga itu diganti ad. Em, mungkin biar irit. Oke nggak apa. Tingkat kedua aku mendapat istilah lain yang dipakai dosen-dosen ngobrol sama sesama farmasis. Katanya, "Bu, mau minum apa? UV atau Visibel?" di suatu pertemuan atau rapat (gila hebat banget mau nelen sinar UV atau Visibel?) hehehe... nggak gitu... maksudnya adalah mau minum air putih=UV, yang tak berwarna/bening atau jus=Visibel yang berwarna warni (ih gaya deh...).
Terus adalagi, yang like disolve like, udah pada tahu kan ya... bisa diartikan aki-laki yang baik untuk wanita yang baik dan sebaliknya. Lain waktu, dosen lain bilang pas ngajar, "Nah, kalau kalian ada yang nikah dengan temen sekelas, itu namanya in situ" saat itu kita sedang membahas pembentukan emulsi, in situ adalah pembentukan emulgator di tempat itu, ketika pembuatan emulsi, jadi ada dua bahan kemudian bercampur dan membentuk emulgator yang menurunkan tegangan permukaan dua fase*kalau tak salah, agak lupa. Aku senyum-senyum aja, geli. Dosen lanjutin, "Iya kan, kalian selalu bareng di kelas selama bertahun-tahun, bisa terjadi itu. Apalagi kalau satu kelas, satu kelompok, itu namanya in situ kuadrat." Wakakak... apa pula maksudnya itu...

Oke deh, cerita nggak jelas ini cukup itu memiringkan otakku yang mulai mengeras membeku. Walau tak ada manfaatnya, biarlah. udah-beneran-nggak-waras. @_@
Nggak jelas banget....

Rabu, 19 Desember 2012

Melapangkan Hati dan Pikiran

Sahabat, apakah kini tengah kau rasai runyam yang pekat, buat hatimu sesak dan sangat sakit? Begitu tersiksa dengan bermacam butiran masalah yang menggumpal padat. Sungguh menekan jiwamu dan menyusahkan langkahmu... Apakah benar dalam waktu ini sedang berada di keadaan yang berat dan ah... sampai semua kata pengungkap pun habis untuk mendeskripsikan suasana hati. *agak sedikit lebay amat emang ni...

Tapi, kita sama tahu kalau keadaan ini tak akan berjalan selamanya atau akan berganti dengan suasana yang lebih menyenangkan... Hanya saja, manusia memang sungguh-sangat lemah dengan keadaan ini. Memang tak mau meresapi rasa, namun tetap ada di hati segala kebuntuan dan sesak yang berat itu. Mengaku sajalah Sahabat, ini sudah fitrah manusia... menyadari kelemahan diri.

Dan engkau pasti tahu keadaan ini adalah warning dari Allah untuk kita. Agar merapatkan hati hanya kepadaNya. Menggantungkan seluruh jiwa raga dan semua masalah yang mendera, kepada Allah Sang pemilik dan penguasa segalanya. Jalannya tentu sudah paham ya Sahabat, dengan sabar dan sholat (sesuai firman Allah di surat Al-Baqarah ayat 45). Sholat tahajud. Sedekah dan membaca Al-Quran, dan masih banyak lagi.

Kemudian... ada lagi yang menurutku adalah pelengkap dari rangkaian dzikrullah... Melihat penciptaan Allah... yang indah. Bukankah setiap ciptaan Allah tak ada yang sia-sia (coba baca surat Ali Imran 190-191). Maka secara tak langsung Allah menyuruh kita melihat ciptaan Allah di sekitar kita untuk dimaknai atau dinikmati juga disyukuri... Dikagumi.

Memangnya apa sih...?
Langit
Eh?
Iya... langit di senja yang putih diselipi celah jingga. Coba Sahabat lihat... Pandangi indahnya warna biru yang berpadu dengan putih lalu beradu dengan jingga. Wih... terasa Sahabat. Sangat terasa indahnya ketika hati ini tengah sesak oleh runyam dan penat. Memandang luas yang indah di jauh atas. Subhanallah... Mata ini sedikit tercengang dan menghantarkan indah ke dalam hati dan fikir. Hati ini sejuk sangat. Terasa lapang dan ringan. Pikiran pun terasa lebih rilex.

Beneran bisa jadi terapi sesak hati dan buntu pikiran (especially for me^^) Nggak ada salahnya dicoba lho Sahabat, siapa tahu berefek juga, he... Nggak perlu jauh-jauh ke pantai, kalau emang jauh dari jangkauan atau berjalan-jalan shoping karena sedang tak ada waktu banyak juga uang banyak :p jadi untuk menguatkan hati yang sedikit lagi kolaps dan harus segera direfresh, bisalah keluar, ke alam bebas hanya sekedar untuk mendongak dan pandangi luasnya langit dengan warna putih dan birunya. Insya Allah sedikit lebih luas dan ringan hati ini.

Selain doa Nabi Musa, yang meminta kemudahan dan kelapangan, memandang langit putih di senja juga bisa meluaskan hati... Setuju? Setuju? :)

Sayangnya aku nggak ada foto, semoga lain kali bisa memotret dengan timing dan angel yang tepat sehingga bisa hasilkan foto yang indah!

Entri Populer

Pengikut