Ketika hati tengah melembut dan mengingat hakikatku sebagai makhluk yang lemah, adalah saat yang tepat untuk meresapkan dan mengingat kembali kebaikan dan kesadaran yang lain. Tentang ajal. Aku membaca tulisanku yang kutulis waktu Ramadhan kemarin. Sebagai perenungan kembali.
Kemarin
pagi aku mendapat kabar dari sahabat yaitu kabar duka. Dosenku meninggal dunia.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun… Saat itu aku tengah mengepel lantai dan
hanya kaget sesaat karena aku melanjutkan pekerjaanku. Sesaat saja dzikrul
mautku. Selintas saja pula pikiran waktu ajalku pun mendekat. Benar, daftar
nama-nama manusia yang dicabut nyawanya akan semakin ke bawah. Mendekat kepada
namaku. Pagi ini aku berusaha merenunginya. Benar-benar mengetuk sendiri pintu
hatiku. Seolah mendapat pernyataan, giliranmu semakin dekat. Daftar itu benar
semakin memendek setiap tercabutnya satu nyawa. Memendek ke arahku. Daftar nama
kita masing-masing. Dan aku sungguh tersadarkan mengingat dosenku itu adalah
ibu muda yang terlihat baik-baik saja beberapa bulan terakhir. Ah, jangankan
beberapa bulan, semenit sebelumnya baik pun jika telah takdirnya akan tercabut
jua nyawa. Jangankan ibu muda, anak kecil dan bayi pun banyak yang telah
dipanggil Allah. Apalagi diriku yang berusia dewasa dan banyaaak dosa. Ajal
sungguh sebuah rahasia besar yang menakutkan. Tak mengenal usia, keadaan,
keimanan dan kesiapan. Ia akan datang dengan tegas dan tanpa ampun! Demi Allah,
sudah pasti kematian yang akan datang kepada kita. Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba,
mereka tidak dapat meminta penundaan dan percepatan sesaat (Al-A’raf : 34).
Lalu kenapa aku masih juga bersantai… duhai diri… sadarlah bahwa perbekalan
masih sangat sedikit… bagaimana akan minum ketika dahaga, bagaimana akan makan
saat lapar dan bagaimana akan berteduh di waktu panas, jika tak ada perbekalan
yang banyak dan lengkap untuk perjalanan panjang di padang ma’syar? Sadarlah
diri saat ini tengah menapaki ramadhan nan mulia, penuh kesempatan dan melimpah
berkah. Kenapa masih juga bersantai? Bagaimana jika daftar itu hanya berjarak
beberapa nama dariku? Celaka! Bagaimana ketika aku tengah melakukan kesia-sian
dan kemalasan ajal datang? Celaka! Demi Allah, tak ada jaminan yang bisa
dipertaruhkan ketika ajal tiba-tiba datang dan kita sedang lakukan hal buruk. Ya
Allah, hati ini hanya bisa merinding membayangkan dan beristghfar memohon agar
tak terjadi padaku. Semua pasti menginginkan khusnul khatimah… dan itu hanya
terjadi jika sehari-hari pun baik.
Rabu, 28 November 2012
Entri Populer
-
Duhai yang pintar... tolong bantu aku jadikan blog ini keren... baru atur sedikit aja aku udah pusing. Emang gaptek diriku... huf... Ya All...
-
Salam Sahabat... Mau menuliskan tentang hal yang menjadi masa depanku, dengan hati (wih, udah kayak lagunya Lyla aja...) Oke, mari aku mulai...
-
Beberapa minggu yang lalu aku kuliah etika Farmasi. Eh, nggak cuma beberapa minggu lalu, tapi sejak awal kuliah Profesi juga udah kuliah Eti...
-
Satu persatu saudara-saudara, teman-teman dan tetangga-tetanggamu menunaikan satu terakhir dari yang lima. Apakah tak tergelitik dalam ha...
-
Rasa yang seperti bunga liar yang bisa merambat menjalar tak terkendali jika tak pernah diperhatikan. Harus diperhatikan agar tak berlebih, ...
-
Sahabat, kalau dengerin lagu, pilihlah lagu yang bikin kita lebih positif... Bukan malah negatif alias galau, makin kelam dunia kita. Duh......
-
Teringat cerita setahun lalu pas Ramadhan, yang telah kutulis... Here it is... Maaf ni, aku mau bicarain banyak orang. Tapi ...
-
Hm... Tak terasa sudah hampir tiga bulan nih aku kerja... Banyak pengalaman yang aku dapatkan... Klimaks-klimaks itu m ulai melandai. Aku t...
-
Huah... Lumayan lama nih aku menghilang dari rumahku ini. Hm... karena internetku lemot dua minggu kemarin. Dan seminggu kemarin aku sibuk ...
-
Baca judulnya, udah peringatan gitu. Penting nih.... Kita ambil kasus salah identifikasi penyakit. Tentu dari data subyektif dan objektif ka...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silakan Komentari Tulisanku Sobat...