Senin, 10 September 2012

Ujian Kesabaranku

Kuceritakan, kuceritakan… hai kawan, kuceritakan kisah piluku… he… Kisah sehari (24 jam lebih dikit sih, em beberapa jam saja). Awal mula adalah siang yang aku agak berat untuk pulang. Kalau tak ingat ambil uang yang juga ada amanahnya, dan ambil obat herbalku, mungkin sudah tenang untuk tidur siang. Karena sepagi itu aku pusing dan agak demam. Perutku juga rada nggak enak. Aku puasa bayar hutang yang terakhir, yang buatku kadang perih lambungnya. Tapi aku harus tetap lanjutkan puasaku meski banyak tak mengenakan juga harus tetap melakukan perjalanan dengan motor meski berat. Niat sudah mantap bahwa aku sehat selamat dalam perjalanan. Sudah minta doa sama ibu dan kakak juga. Tenang. 

Berangkat tepat pukul 2 siang, berfikir bisa menghindari ramai di jalan. Kalau berangkat sore kemungkinan ramai, kan sabtu, pada mudik. Dan karena aku pingin agak lama di Wonosari. Sampai rumah ashar dan bisa istirahat. Tapi kawan, rencana dan pemikiran sungguh bisa berubah ketika takdir Allah berjalan. Jam setengah 3, saat jalan menanjak, banku bocor kawanku, sahabatku… Ingat, kalau sebentar lagi ada tambal ban. Perlahan kukendarai motor dan sampai lah di tambal ban yang diseberang jalan. Menyebrang yang menakutkan, karena memotong jalan menurun yang agak menikung. Allah maha pelindung. 

Lalu aku kesitu dan tukang tambal bannya tak ada, mesti nunggu. Sekitar sepuluh menit kemudian yang datang adalah anak kecil, umur 10 atau 11 tahunan. Maksudnya apa nih? Ternyata dia yang mau nambalin banku. Yasudah percaya. Aku disuruhnya menyetandar dua motorku. Lha aku nggak bisa, seumur tuh motor, nggak pernah aku standar dua sendiri. Mesti dibantuin atau minta tolong orang lain. Akhirnya dia panggil mbaknya, dan bertiga kami bersusah payah menyetandarkan dua motorku. Tenagaku berkurang lagi saudara-saudara… Fiuh, sabar. 

Aku menunggu dengan riang, mencoba mengalihkan ketidakenakan tubuhku. Tapi memang tu ban dalam udah banyak yang bocor dan aku mesti ganti. Sayang disayang, persediaan disitu habis dan mesti beli. Aku manut saja, malah lebih cepat kalau cuma tinggal ganti. Tetapi… duh, banyak tapi ya? Ini baru setengah cerita soal ban bocor lho ya. Tetapi disitu tak ada motor dan tak ada orang lain kecuali bertiga kami. Menunggulah cowok kecil itu bis yang lewat. Bis jurusan jogja-wonosari. Dan hari itu memang hari ujianku. Bisanya tak lewat juga sampai pukul 3 lebih. Sampai ada lagi motor yang bannya bocor (em, jadi mikir sekarang, ada sesuatu kah?)-hus, jangan suudzon! Bahkan kakaknya yang cowok datang pun tak bisa berbuat banyak, belum ding. Dia bantuin motor yang baru datang. 

Akhirnya si anak kecil itu jalan kaki ke piyungan, cari ban dalam baru. Kasihan ya… Beberapa menit kemudian ada temannya bawa motor. Dan si kakak menyusul adiknya, karena motor satunya itu juga mesti ganti ban juga. Lama kami nunggu, pukul 3.40 mereka datang dan gantiin ban. Motor satunya sepuluh menit selesai, motorku masih lama. Sabar Najiva… Sabar juga ketika keduanya, si anak kecil dan si teman, merokok! Kasihanku hilang seketika sama anak itu, pf… Menahan bau rokoknya yang bikin kepalaku makin pusing dan perutku makin mual. 

Dan… akhirnya, motorku, selesai, benar-benar selesai saudara-saudara! Lega yang sebenar-benarnya! Pukul 4.10, teng! Kesabaran pertama, berhasil! Menurutku ya, hehe… Karena tak ada marah atau mendongkol. Menikmati perjalanan yang beberapa kali kena macet karena ada bis atau truk yang mogok di pinggir jalan. Sampai jualah diriku di rumah Wonosari. Aku ceritakan kejadian itu pun dengan riang, sungguh murni sabarku ^ ^ 

Di rumah juga disambut kakakku yang beliin aku ayam crispi, hm… Eh, aku belum sholat dan segera mandi pake air anget lalu sholat. Menunggu adzan maghrib. Pusing kepala dan demam sementara dikesampingkan. Baru setelah makan buka puasa, aku mulai tepar. Memejamkan mata sebentar sebelum sholat maghrib, hehe, ketahuan boroknya aku yang suka menunda kewajiban. Karena aku merasa kedinginan saat ambil wudlu jadi disatuin sama ambil wudlu untuk sholat isya. Aku sholat maghrib, membaca Al-Quran dan terpejam sesaat menunggu adzan selesai. Sholat isya, minum obatku, pipis dan segera tepar di kasur. Kepalaku udah hampir lepas melayang saking berat dan pusingnya kusangga. Sakit… harus sabar. Panas tubuhku juga bikin nggak nyaman, gerah pula pake selimut. Tapi kalau nggak pake kedinginan. Aku tidur pun nggak nyenyak, kayak mimpi buruk. Sungguh tak enak! Emang gitu ya kalau demam, kayak mengigau dan sering mimpi buruk. Seingatku juga gitu aku kalau demam. Mimpi buruk, mimpi yang menakutkan. 

Malam itu juga terasa panjang. Paginya aku udah agak mendingan. Nggak puasa… padahal rencana awal habis puasa bayar hutang dilanjut puasa syawal, kan keburu habis syawalnya. Pagi itu ceritanya nenek mandiin dek Zahra, tante di dapur masak, omku nggak tau kemana. Nah aku yang mau cuci baju disuruh melayani pembeli di warung nenek. Aku mencoba membantu, dengan keadaan yang masih belum seperti sedia kala normalnya. Dan tragedi kecil terjadi, aku ketiban timbangan 2 ons tepat di kaki karena kurang hati-hati, kena tulangnya. Sakitnyau! Ditahan aja, meski jadi memerah.Karena aku segera ingat bahwa musibah kecil yang terjadi bisa disebabkan maksiat atau kesalahan kita sendiri. Dan aku langsung menelusuri, keburukan apa yang kulakukan sebelumnya. Itu membuatku lebih sabar dan menerima kecelakaan kecil. Lanjut nyuci baju dan kaus kaki. Makan yang agak ogah-ogahan, apalagi minum air putih. Sepertinya memang kumat dispepsiaku… 

Lalu aku tidur sampai dzuhur. Nonton TV dan kemudian goreng kentang dan tempe untuk bikin kering lalu cuci piring. Selesai istirahat bentar dan mandi keramas. Balik Jogja pukul 4.45. Di jalan, subhanallah ramainya… sabar… Beneran berada di ular panjang mobil-mobil dan motor yang menyemut. Beruntung aku bisa melewati ular panjang itu. Walau sempat di klakson motor belakang karena nggak nyalip juga dari kiri. Dipikir bisa apa dan mudah gitu, maka kupersilakan motor itu nyalip aku dan menyalip mobil-mobil itu. Hasilnya apa, nggak muat dia. Aku nyalip dari kanan dan berhasil sampai ujung ular panjang. Ye… Sampai rumah jam 6. Rebahan bentar sambil buka hape, ada sms. Dari temanku minta tugas kelompok bagianku. Harus dikirim sebelum isya. Ya ampun aku belum bikin karena semalam tepar dan seharian berusaha menetralkan pusingku. Akhirnya usai sholat maghrib aku kebut ngetik dan kirim pukul 7, setelah isya itu, duh maaf teman… 

Hh… begitulah kisah piluku yang jadi panjang kayak naga ini (sepanjang ular mah lewat). Ujian kesabaran atas halang rintang, atas sakit dan atas sikap orang-orang. Fiuh… Ada komentar saudara-saudara?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Komentari Tulisanku Sobat...

Entri Populer

Pengikut