Minggu, 24 Juni 2012

Ayah, Rasakan Cintaku Padamu


Ayah, ada satu permintaanku padamu. Namun, betapa sulitnya kukatakan ini pada Ayah. Kesulitan ini apakah wujud cintaku padamu atau bukti tak ada cinta. Entahlah Ayah. Aku bimbang. Sebelumnya, ada yang ingin kuceritakan kepadamu, Ayah. Mungkin lebih tepatnya menceritakan kembali.
Dini hari di dalam kereta, engkau tertidur pulas. Aku yang disampingmu antara ingin dan ragu untuk membangunkanmu. Bertanya, sudah sampai mana? Sudah dekat kah? Sayang, ragu-raguku yang lebih mengusai otakku. Jadilah kita terlewat dari stasiun tujuan kita. Maaf Ayah...
Inilah kali pertama aku merasa inginku adalah untuk kebaikanmu dan kita semua. Keinginan yang tak tersampaikan. Aku menyesal.

Lalu kita turun di stasiun berikutnya. Dan kembali dengan kereta berikutnya, yang menuju stasiun sebenarnya. Kau menggendongku Ayah, di punggungmu. Padahal engkau membawa beban tas dan kardus. Sungguh terasa kehangatan cintamu. Kau pun menenangkanku dengan berkata,
“Kita pasti akan segera sampai rumah, Iva.” Engkau mengetahui khawatirku
Dan benar, ketika adzan subuh bersahutan, kita sampai juga di rumah. Bahagia rasanya. Engkau lah penolongku, Ayah...
Masa berikutnya adalah 6 tahun kemudian, ketika aku kelas 5 SD. Ada suatu kepiluan yang tak terlihat olehmu, juga Ibu. Di sekolah aku diolok-olok teman-temanku laki-laki. Bahwa Ayah seorang penjudi, pengadu nomor. Sakit hatiku Ayah. Aku berkoar-koar pada mereka bahwa berita itu tak benar. Aku bilang Ayah bukan orang yang seperti mereka katakan.
Pada akhirnya, aku tahu kebenarannya. Engkau seperti yang mereka bilang. Hatiku lebih sakit, Ayah. Apalagi ketika aku mendengar tak sengaja pertengkaran Ayah dengan Ibu karena masalah itu. Aku menjadi tahu kalau ibu pun sakit karena hal ini. Ayah, bagaimana aku harus bersikap? Aku bimbang ketika itu. Hanya bisa menangis dalam doaku. Semoga Ayah kembali sadar. Dan aku tak bohong lagi pada teman-temanku. Menyanggah kenyataan pahit ini.
Aku ingin Ayah menjadi Ayah yang mengayomi. Bukan menyakiti. Aku tahu Ayah sedang khilaf dan terbawa arus keburukan. Karena orang-orang pun sedang terlena oleh kemaksiatan itu. Aku percaya Ayah akan berhenti dari perbuatan setan itu. Aku yakin doaku dan juga doa ibu akan terkabul.
Benar lah, setelah beberapa bulan, semuanya kembali semula. Kau tersadarkan oleh peringatan dan razia oleh pemerintah. Bersyukur, ayahku yang dulu telah hadir lagi. Ayah yang selalu menasehati dan menyemangati aku, adik dan kakak. Mengajari kami belajar. Menceritakan dongeng kancil sebelum tidur. Aku bahagia Ayah telah kembali ke jalan yang benar.
Sekarang kau tahu yang ku alami dan rasakan, Ayah. Sudah kah kau rasakan cintaku padamu? Ah, belum ya. Yang terasa adalah cintamu padaku. Bahkan sejak aku dalam kandungan, cinta itu sudah terasa. Terpancar dari hatimu, Ayah.
♥♥♥♥♥
Cerita berikutnya yang ingin kusampaikan adalah ketika pendaftaran masuk SMP. Aku pindah dari Indramayu, Jawa Barat ke Yogyakarta. Tempat asal Ayah dan Ibu. Itu keinginan Ayah dan Ibu, juga keinginanku.
Tapi, ada masalah. Persyaratan dari Indramayu kurang. Dan kau tanpa memanjangkan pikir segera pergi untuk mengambilnya. Secepatnya juga kau kembali. Sungguh perjuangan istimewa untukku. Aku tersanjung Ayah... Kau sungguh penolongku...
Sekarang, aku merasa betapa panjang deretan perjuangan dan pengorbananmu untukku. Dan akan bertambah panjang seiring bertambahnya usiamu. Tak hanya untukku, namun juga untuk Kak Fina dan Bagas. Dan keburukanmu di masa lalu terhapus oleh peluhmu, Ayah...
Aku ingat, betapa bahagianya engkau ketika aku diterima di SMP favorit dan paling baik sekabupaten. Aku lebih bahagia Ayah, karena telah hadirkan senyum pada Ayah dan Ibu. Pun ketika aku kemudian diterima di SMA yang favorit se-Kabupaten juga. Ku anggap itu bukti cintaku kepadamu. Membuatmu bahagia.
Aku juga tak akan lupa pada pujianmu. Kata-kata manis yang tersimpan rapi dalam memoriku.
“Sejak dulu, Bapak selalu merasa Ivana tertarik dalam bidang Sains. Karena Iva pintar dalam IPA dan matematika. Jadi tepat sekali jika Iva memilih jurusan IPA ini. Akan menjadi ahli Paspal.” Aih, Ayah selalu bisa membuatku tersipu oleh sanjunganmu yang tak kau berikan pada Kak Fina dan Bagas. Satu tanda lagi aku merasa aku istimewa di mata dan hatimu, Ayah.
Dukungan mu pula yang selalu menjadi semangat utamaku. Katamu,
“Pilihan jurusan kuliah ada di tangan Iva. Bapak dan Ibu selalu mendukung. Jika Iva yakin untuk memilih Farmasi, Bapak senang sekali. Karena jurusan itu sangat bagus menurut Bapak. Iva pasti bisa.” Benar kan, Ayah lah yang selalu mengisi ruang semangatku.
Hingga saat ini, Ayah tetap menjadi lelaki terhebatku. Bagaimana tidak, kau tak pernah mengeluh di hadapanku. Tentang kesulitan dan hidupmu. Membuat aku meniru ketegaranmu. Tak pernah lagi buat aku sedih dan menangis setelah kejadian pahit itu. Kau selalu buat aku tertawa dengan candamu. Membuka mataku pada dunia ini. Selalu ada dalam suka dan duka ku. Kata-katamu adalah mutiara untukku yang tengah rapuh.
Betapa melimpah ruah cintamu padaku, Ayah. Buat aku terbuai. Diselaputi cinta, tentu akan menyamarkan segala keburukanmu. Tak ada celah untuk masuknya prasangka buruk tentangmu. Yang ada adalah pernyataan bahwa Ayah mendekati kesempurnaan sosok seorang Ayah.
Tapi, ada pisau tajam yang merobek selaput itu. Membuka mataku yang terbutakan cintamu. Aku dihadirkan pada sebuah kenyataan menyakitkan. Kebenaran dan kebaikan yang lain menyadarkanku pada kesalahan yang telah kau lakukan, Ayah.
Aku masih ragu, Ayah, apa ini benar menyakitkan atau hanya luka semu. Lama aku berfikir. Menimbang apa Ayah salah atau Ayah tetap benar. Menganggap perbuatan Ayah adalah suatu kewajaran atau kah suatu penjerumusan. Ya, terjerumus dalam dosa. Itu yang dikatakan mereka. Aku semakin sering mendengar pengaharaman atas perbuatan Ayah. Bagaimana ini? Aku harus bagaimana Ayah?
♥♥♥♥♥
“Sekarang, bapak-bapak tetangga kita selalu sholat wajib di masjid, Va. Kapan bapakmu bisa begitu.” Ibu berkata padaku dari seberang telepon di suatu sore ketika Ayah pergi. Aku hanya tersenyum.
Aku tak menyesali perbuatan Ayah yang satu ini. Pasti ada alasan, meski mungkin lebih ke arah enggan. Ayah tetap sholat lima waktu. Walau tak pernah menjadi imam kami. Tidak, sekali lagi bukan tentang ini Ayah. Ada yang lain yang lebih aku pikirkan. Menyiksa perasaanku.
Selama setahun ini aku terus memikirkannya. Aku yang telah dewasa berusaha keras mencari kebenaran perkataan mereka. Setiap yakin, aku ragu lagi ketika bertemu denganmu. Pertemuan kita tak setiap hari kan Ayah. Jadi ketika tak bersama dirimu, aku mantap untuk mengungkapkan isi pikiranku. Namun ketika kau bersama diriku, hal yang kusampaikan menguap entah kemana. Terdesak oleh rindu dan bahagiaku akan hadirnya dirimu. Aku terlalu lemah kah? Terlalu bodoh?
Keinginan untuk ungkapkan pendapatku muncul lagi ketika kau lakukan perbuatan itu. Dan seketika juga hatiku gelisah yang berasa sesak. Ayah, andai kau dengar suara hatiku. Pasti aku tak akan kesulitan utarakan dalam barisan kata dari bibirku.
Tahukah Ayah, jika orang lain yang melakukan perbuatan itu di dekatku, aku akan langsung mendengus dan memaki dalam hati. Mungkin bisa sumpah serapah buruk juga. Tapi tentu tak akan kulakukan padamu, Ayah. Bahkan ketika aku kehabisan udara karena oksigen hampir seluruhnya tergantikan oleh asap. Ya, asap dari hembusan nafas dan mulutmu Ayah. Dan itu berlangsung setengah jam. Aku tak bisa lakukan apa pun. Tak mampu aku mengusik kesenanganmu. Tak tega membuatmu menjadi kikuk dan merasa bersalah padaku. Jadi aku tetap diam, Ayah. Aku anggap ini sebagai pengorbananku. Wujud cintaku padamu.
Lalu ketika kau lakukan di dekat anak-anak balita atau anak yang sedang sakit, aku makin bimbang. Apakah perbuatanku ini benar? Membiarkanmu merasakan nikmatnya tembakau dan membuat anak-anak itu teracuni. Oh Ayah, tak tahukah kau telah berlaku zalim pada mereka. Kau egois tanpa memperdulikan apa yang terjadi pada mereka. Padahal kau pasti tahu akibat yang terjadi pada anak-anak yang masih rentan itu.
Ayah, haruskah kujabarkan akibat dari perbuatanmu? Pada kesehatanmu, pada kesehatan orang-orang di sekitarmu, pada keuangan keluarga kita. Apakah kau mau mendengarnya? Pasti akan terasa membosankan dan kau akan sebal padaku. Aku tak mau membuatmu kesal atau tak enak. Jadi, aku tak pernah jelaskan semua itu.
Aku juga telah menyimpan satu buku untukmu, Ayah. Buku yang semoga bisa membuka pikiranmu. Menyadarkanmu. Tapi, buku itu hingga sekarang belum juga sampai di tanganmu. Keberanianku tertutup ragu-ragu dan pikiran burukku. Aku takut engkau tak suka.
Jangankan aku, Ibu pun sudah jengah dengan nasehatnya padamu. Bahkan Ibu telah luluh dan membiarkan Ayah berbuat sesuka hati. Karena Ayah selalu menyanggah dengan perkataan,
“Sudah menjadi kebiasaan, susah berhenti. Bapak juga selalu sehat. Tidak pula mengacaukan anggaran hidup keluarga kita. Jadi tidak ada masalah kan?”
Mungkin sekarang tidak, Ayah. Tapi apa bisa menjamin kelak tetap tak ada masalah. Kau semakin renta dan segala sakit itu akan datang. Tak ingin kah kelak kau akan menggendong cucu-cucumu? Bukan aku mengharapkan sesuatu yang buruk padamu, hanya berfikir nyata. Telah banyak bukti di sekitar kita. Tentang mereka yang kalah oleh penyakit dan terbelenggu kelemahan akibat asap beracun itu. Bahkan kematian datang karena asap itu.
Lalu bagaimana Ayah? Apa yang sebaiknya aku lakukan? Bolehkah kusampaikan permintaanku padamu? Banyak sekali tanya yang ingin kuajukan padamu. Dan jika jawabanmu adalah ya, maka dengarlah permintaanku padamu,
“Pak, aku hanya ingin satu hal. Satu saja permintaanku yang sangat ingin Bapak penuhi. Aku ingin Bapak berhenti menghisap asap racun yang menyakiti tubuh Bapak dan orang-orang di sekitar Bapak.”
Sederhana sekali permintaanku. Hanya saja, betapa runyam dalam otak ku. Hatiku. Akan sederhana juga kah pada kenyataannnya.
Ayah, bimbangku lebih sering kalahkan niat kebaikan dalam hatiku. Akan kah keinginan ini juga terserap kebimbanganku? Jujur aku tak rela. Karena aku tahu dan sangat yakin, keinginanku adalah baik untukmu. Untuk hidupmu sekarang dan kelak di akhirat.
Jikalau permintaanku itu tak terucap, aku akan senantiasa berdoa agar kau sadar dan berhenti. Kusisipkan dalam setiap doaku. Aku ingin yang terbaik untuk Ayah. Tak ingin hal buruk menimpa Ayah. Di dunia dan di akhirat. Tak sanggup aku membayangkan Ayah mendapat hukuman berat kelak atas dosa Ayah yang satu ini. Tak tega aku menyaksikan Ayah disalahkan Tuhan karena telah membuat orang-orang yang Ayah sayangi juga sakit.
Duhai Ayahku yang sangat kusayang, cintamu padaku besar dan tak dapat kutandingi. Pengorbanan serta perjuanganmu indah. Romantisme yang kau berikan pada kami akan selalu menghadirkan kebahagiaan. Semoga doa cintaku padamu mampu mengetuk hatimu, Ayah. Aku selalu mencintaimu, Ayah.
“Ayah, jika aku harus berkorban untuk membuktikan cintaku, akan kulakukan Ayah. Mengorbankan tubuhku agar kau sadar bahwa perbuatanmu adalah suatu kesalahan.”
♥♥♥♥♥

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Komentari Tulisanku Sobat...

Entri Populer

Pengikut