Kamis, 20 September 2012

3 Pasien Terheboh

Wah... kuota internet habis nih sahabat... Biasanya lemot, tapi sekarang malah nggak bisa buka situs yang bukan 10 daftar situs internet cepat itu... Untunglah google n facebook termasuk daftar 10. Jadi masih bisa fb-an sama bloging...

Oke, mumpung ada waktu luang sbelum zuhur dan kuliah lagi, aku mau nulis aja... Cerita... Tentang pasien-pasien terheboh di RS dulu aku kerja. Pasien dokter umum. Kalau pasien dokter anak sama kandungan, seingatku nggak heboh banget dan normal-normal aja. Kecuali pasien bersalin.


Lanjut... Pasien pertama adalah pasien cewek, mahasiswa yang datang malem jam 9 lebih dikit. Untung dokter jaga sebelumnya baru mau pulang jadi masih sempet balik lagi n periksa tu pasien cewek yang dianter temennya cewek satu dan beberapa (lebih dari 3) cowok. Malah ada satu cowok yang nggak pake sandal. Saking paniknya mungkin. Nah si cewek ni ngeluh perutnya sakit banget  dan meronta-ronta gitu. Aku pikir bahaya banget kan. Jadi ikutan agak tegang. Tapi mencurigakan tu cewek sama segerombolan cowok. Kata temanku malah mungkin habis minum terus cewek itu nggak kuat. Hah, masa sih. Dan anehnya, si cewek ni nggak mau disuntik. Harusnya disuntik antikejang perut (Hyosin-N-butilbromida), sama injeksi ranitidin. Dokter L, cewek, bingung. Untunglah dokter yang jaga malam, dr. St datang. Giliran dia yang sebel sama pasiennya yang nggak mau diapa-apain. Aku udah ngerasa cewek ni lebay, jejeritan dan bertingkah. Kedua dokter ni udah mikir bahwa si cewek adalah psikosomatis, penderita yang berlebihan merasa sakit dari suatu penyakit, bahkan sampai mengada-ada suatu penyakit, psikisnya agak-agak. Lalu dr. St malah ninggalin pasien itu sama temen-temennya, yang sebelumnya tanya ke cowok yang nggak pake sandal, "Habis berantem ya Mas?" dan yang ditanya cuma diem aja yang menandakan kemungkinan iya... Berarti emang beneran lebay. Akhirnya, karena di tempat kami tak menerima pasien rawat inap UGD, jadi dirujuk ke RS lain... Fiuh, selesai deh keributan malam itu.

Pasien kedua anak kecil nih, usia 7/8/9 tahun. Lagi poli anak nih, rame pada mau imunisasi. Kita di front office. Lagi sibuk juga. Tiba-tiba terdengar anak itu jejeritan, meraung-raung dan nangis kenceng banget. Yang jaga sore itu adalah dr. Sd, dia minta semprot Chlorethyl, untuk mengurangi nyeri pada luka itu pas disuntik obat lainnya. Tapi karena nggak ada alias habis tu obatnya, akhirnya langsung aja disuntik lidocain sebagai anastetik lokalnya. Kasian, udahlah luka berdarah, disuntik pula. Ya nangis kepejer deh tu anak. Bahkan kata temanku, yang antarin apa gitu ke ruang dokter dan liat anak itu, sampe dipegangin sama kedua orangtuanya. Ibunya pegangin kepala (yang luka di belakang telinganya) dan bapaknya pegangin tangan sama kakinya. Temenku juga niruin teriakan anak itu, "Jangan dipegangin bapak, Ibu...! Aku nggak mau...! Sakit...!" Kita yang denger jadi agak lucu ya, jejeritan dari awal sampe akhir. Pas dijahit juga. Tapi kasihan ya, katanya jatuh pas main bola ata gimana gitu. Setelah pulang, dokternya lega...

Pasien ketiga, ini nggak heboh yang terjadi keramaian atau kerusuhan. Tapi membuat kami diam seribu bahasa. Pasien bapak-bapak yang sangar. Dia tanya ini RS 24 jam, kami jawab iya. Lalu dia mau berobat. Parahnya, dokter yang jaga sore belum datang dan yang jaga pagi udah pulang daritadi. Pas dibilangin belum ada dokter jaga, si pasien langsung muntap, "Katanya 24 jam!" dan bla-bla-bla. Untunglah direktur kami belum pulang dan kami langsung konfirmasi kalau ada. Tapi masih naik darah ni bapak, dia bilang kartu pasiennya hilang dan terakhir berobat disini 3 bulan atau 4 bulan lalu. Stres kan temenku nyari no rekam medik di daftar pendaftaran pasien, karena nyari manual membalik kertas dalam buku pendaftaran pasien. Waktu itu masih jam 2 lebih, jadi yang jaga pagi belum pulang sementara yang jaga sore baru datang. Aku yang baru datang langsung masuk apotek, ngecek dan lihat ada pesan atau apa. Dan ketika pasien itu datang, aku tetap dalam apotek. Nggak berani keluar. Karena aku lihat mbak-mbak kasir dan temanku diam semua. Yang bersuara cuma bapaknya. Ngebentak temanku yang cari no RM lama. Temanku dengan sabar melayani, tapi sialnya dia nanya lagi yang kedua nama bapaknya. Si bapak langsung ngatain bahwa temanku masih muda tapi udah pelupa! Wah parah ni si bapak... Temenku satunya malah masuk apotek, males ngelayanin pasien itu katanya. Haha... asli, kita semua diam. Pas bapaknya diperiksa pun kita masih belum ada yang buka suara. dr. Sn memeriksa cepat dan memberi resep yang obatnya banyak euy. Wah, giliranku ni abis itu. Nyerahin obat ke bapaknya. Tapi santai aja, pikirku. Waktu aku terangin aturan pakai, bapaknya tanya satu obat, buat apa katanya. Agak lupa obatnya apa, tapi aku bisa jawab dan tanya lagi yang harus habis ini antibiotik ya? Ciprofloksasin. Aku jawab iya dan dia membalas, sekarang antibiotik bervariasi, kalau dulu cuma penisilin, katanya sok ngerti. Dia bilang dia itu sarjana Sains. Oke deh bapak... cepat sembuh ya... Tapi nggak ada obat darah tingginya, he... Setelah bapaknya benar-benar pergi meninggalkan RS, barulah kami bersuara dan ketawa! Serasa udara yang tadi hilang kembali ke sekitar kami. Lega... Ya ampun... Bapak-bapak, sabar dikit... aja ya?

Begitulah Sahabat, ada komentar? ^ ^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Komentari Tulisanku Sobat...

Entri Populer

Pengikut