Rabu, 05 September 2012

Akhir Penyesalan

Lelaki itu memandangi jalanan yang ramai. Duduk sendiri di bangku melingkar. Sendiri merenung. Melayangkan pikiran ke masa silam. Tujuh tahun lalu, ketika ia lulus SMA. Juga kenangan sebelum kelulusan yang membahagiakan.
             “Kamu udah yakin Ki?”
            “Tentang pilihanku? Tentu saja. Udah daftar, udah ujian, tinggal tunggu hasilnya. Kamu sendiri, kenapa sampai sekarang belum daftar kuliah?”
            “Rizki... Bukannya udah pernah ku bilang, aku nggak akan melanjutkan kuliah. Orangtuaku mana mampu biayai aku kuliah!”
            “Tapi kan ada beasiswa Argi, kamu pintar, pasti bisa masuk dalam daftar mahasiswa yang dapat beasiswa.”
            “Sama saja, biaya kuliah gratis, tapi biaya hidup di kota? Kasihan Mamak dan Bapak. Adik ku ada dua, udah SMP dan SMA.”
            “Kamu ikut kursus atau kuliah D3 yang sebentar?” Rizki antusias mencari kesempatan untuk sahabatnya agar bisa melanjutkan kuliah. Dalam pikirannya, sayang sekali jika lulus SMA tidak melanjutkan kuliah, apalagi Argi termasuk anak pintar. Tetapi Argi hanya menanggapi biasa dan malah tertawa menjawabnya.
            “Sudahlah Ki, keputusan tak akan berubah.” Argi berkata dengan senyum, namun masih belum membuat Rizki tenang.
            “Tapi, sebenarnya kamu ingin melanjutkan kuliah kan Gi?”seketika wajah Argi pias, hening, pertanyaan itu menggantung.
            “Benar kan?” Rizki kembali menegaskan pertanyaannya
            “Biarlah hanya menjadi mimpi yang tak terwujud. Aku sudah menguburnya dalam-dalam.” Wajah Argi kembali ceria, meski tak tahu di dalam hatinya.

            “Lalu kamu mau kerja? Dimana?”
        “Entahlah, di toko atau di rental, di pabrik, dimana saja asal halal dan mereka mau menerimaku.”
            “Baiklah, semoga bisa segera mendapat pekerjaan kelak. Tapi, jangan kubur mimpi mu, kamu bisa mewujudkannya. Dengan kamu bekerja keras dan mengumpulkan uang, kamu bisa menabung untuk biaya kuliahmu. Bukankah sekarang ini banyak orang kuliah ketika umur tak lagi muda. Mereka bahkan sudah berkeluarga.” Pernyataan Rizki membuat Argi tertawa, karena bagi Argi tetap sulit dan tak mungkin.
            “Kenapa tertawa? Kamu tak percaya? Hei, jangan ragukan kehendak dan rencana Allah. Jika kamu bersungguh-sungguh Allah pasti membalasnya dengan hasil buah yang manis. Kamu pasti bisa kuliah jika benar-benar berusaha untuk bisa kuliah.” Argi berhenti tertawa setelah melihat wajah yakin dan semangat dari sahabatnya sejak SMP itu.
            “Baiklah, terima kasih saran dan nasehatnya. Doakan saja semoga aku bisa mengumpulkan uang yang banyak agar bisa meringankan beban orangtuaku dan menabung untuk kuliah. Aku juga akan berusaha.” Argi akhirnya menyetujui saran Rizki.
            “Begitu dong... Jadi orang harus optimis!”
            Rizki terlempar kembali ke masa sekarang. Teringat satu kata terakhir, yang ternyata pernah diucapkan oleh dirinya sendiri.
            Rizki beranjak dari duduknya. Langit sore akan segera berganti kemerahan. Dia berjalan meninggalkan keramaian disekitar jalan Malioboro, depan benteng vrdeenberg. Rizki  pulang setelah seharian bekerja.
#####
            Motor tua memasuki jalan yang ramai oleh pengendara motor yang kebanyakan dikendarai oleh laki-laki atau perempuan berpenampilan mewah, gaul dan modis. Tak jarang ada mobil mewah melintas, ikut dalam keramaian itu. Membuat siang semakin panas.  Waktu dhuhur telah berlalu satu jam. Maka motor tua itu menuju parkiran masjid.
            Pengendara motor itu adalah Rizki, pemuda berumur 25 tahun. Setelah memarkir motornya, dia berjalan ke tempat wudhu. Kemudian memasuki masjid kampus dari universitas termegah di Yogyakarta.
            Usai sholat, Rizki melepas lelah dengan istirahat sebentar. Duduk di tepi masjid. Menyandarkan tubuhnya di pilar masjid yang besar. Matanya menerawang ke depan, ke pohon palem yang ditanam teratur di pelataran masjid.
            Tetapi pikirannya lebih jauh menerawang. Kembali pada masa lalunya. Mengingat dulu begitu kecewa saat tak lulus ujian masuk universitas ini. Beberapa temannya lulus, di jurusan Teknik Elektro dan Informatika, seperti cita-citanya. Kemudian dia mencoba lagi dengan ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri seluruh Indonesia. Pilihannya tentu universitas ini dan jurusan Teknik Elektro dan Informatika.
            Sayang, keinginan Rizki tak menjadi nyata. Dia gagal lagi. Malah diterima di universitas swasta dengan jurusan Farmasi. Padahal dia tak sungguh-sungguh, hanya sebagai cadangan jika tak diterima dimanapun.  Saat itu, tak ada pilihan lain. Pendaftaran universitas lainnya sudah berakhir.
            Maka dimulai lah hari-hari kuliah Rizki dengan setengah hati. Juga kekecewaan dan kemarahan tertahan, yang sering muncul di pikiran dan hatinya. Membuat ia makin merasa sangat berat dengan kehidupan sebagai mahasiswa Farmasi.
            Akhirnya kemarahan itu mencapai klimaks, kesabaran Rizki di batas akhir. Dia memutuskan berhenti kuliah di tahun ketiga. Alasannya beragam. Dari kuliah yang berat dengan praktikum dan tugas sulit. Kemudian sejak awal tak menyukai Farmasi dan ingin mencoba mendaftar lagi di universitas kebanggannya.
            Padahal dulu, di tahun kedua kuliah, Rizki kembali mendaftar di universitas itu. Hasilnya tetap sama. Maka keinginan untuk kembali mendaftar ditentang banyak saudara dan tentu orangtuanya.
            Namun keputusan Rizki sudah bulat. Tak tergoyahkan oleh bujukan semua orang disekitarnya. Alasan berhenti makin kuat ketika ada tawaran dari temannya yang bekerja di perusahaan elektronika sebagai supervisor. Dan Rizki benar-benar berhenti kuliah, membuat kecewa semua orang, terlebih orangtuanya.
            Hari-hari berikutnya Rizki bekerja dengan semangat yang lebih besar dibandingkan saat kuliah. Seperti mendapatkan kembali ambisinya dulu. Namun keahlian Rizki tak setinggi semangatnya. Rizki tetap tak tahu banyak dan tak cakap dalam pekerjaan itu. Kemudian dia dipecat dan menjadi pengangguran. Rizki frustasi. Apalagi ketika bertemu dengan teman-teman kuliah dulu.
            “Permisi Mas!” lamunan Rizki dibuyarkan oleh pemuda yang berjalan didepannya, mengambil sepatu yang berada di bawah kaki Rizki.
            “Oh ya.” Rizki membalas, memperhatikan mahasiswa itu, melihat jaket angkatan yang dipakainya dan membaca Teknik Elektro dan Informatika dibelakang jaket itu. Rizki kembali merasa sesak. Iri itu menyeruak lagi di hatinya. Sampai detik ini Rizki masih menyesal dan kecewa tidak bisa masuk di universitas ini. Jika ia bisa kuliah disini, mungkin dia tidak akan dipecat dari pekerjaannya dulu.
            #####
            “Rizki?! Kamu bekerja disini?“ Rizki dikagetkan dengan kehadiran pengirim yang baru masuk. Teman SMAnya.
            “Ah, iya.” Gugup Rizki menjawab. Cepat atau lambat pasti ada teman yang tahu keberadaannya, pekerjaannya. Seorang kurir di salah satu perusahaan jasa pengiriman swasta.
            “Bukannya kuliah di Farmasi? Nggak diterima bekerja dimana pun ya?” temannya menerka,
            “E... iya benar.” Rizki kembali menjawab pendek, dia bingung mau memberi jawaban yang seperti apa. Ini seperti aib dalam hidupnya. Dia malu.
            Temannya telah berlalu dari hadapannya, tetapi rasa itu masih berada di hatinya. Perasaan menyesal. Rizki mulai menyadari kesalahannya. Menyesali perbuatannya.
            Dia kembali ingat pada Argi. Seseorang yang tak seberuntung dirinya. Setelah mereka lulus tak ada komunikasi lagi antara Rizki dengan Argi. Tidak ada kabar pula tentang Argi.  Tak ada yang tahu. Rizki ingin ke rumahnya, tetapi sejak dia memutuskan berhenti kuliah, dia sangat malu untuk bertemu dengan teman SMA. Apalagi dengan Argi.
            “Apa kabar dengan Argi ya?” Rizki bergumam dalam hati dan tiba-tiba keinginannya bertemu Argi kembali muncul di hati. Maka ia putuskan sore ini, usai kerja dia akan pulang ke desa dan esoknya ke rumah Argi.
#####
            “Sudah pindah?” Rizki memastikan jawaban atas pertanyaannya pada tetangga Argi saat dia mendapati rumah Argi kosong.
            “Iya Mas, udah lama. Sekitar dua tahun lalu. Mas, teman Argi ya?” tetangga Argi bertanya, lelaki yang lebih muda dari Rizki.
            “Iya. Saya Rizki.” Rizki mengulurkan tangannya.
“Fandi.” Menyalami Rizki
“Kamu tahu dimana Argi sekarang. Atau kamu bisa ceritakan padaku apa yang terjadi dengan keluarga Argi?” pertanyaan Rizki dijawab anggukan oleh Fandi dan mereka pun duduk di teras rumah Argi.
            “Dua tahun setelah Argi lulus, dia memlilih bekerja di  Arab, menjadi buruh di pabrik. Meninggalkan pekerjaannya di percetakan. Dia dan beberapa temannya pergi dengan harapan bisa mendapat uang banyak.” Fandi memulai ceritanya.
            “Dan memang benar, Argi dapat uang banyak. Dia selalu mengirimkan uang untuk keluarganya. Untuk adik-adiknya.”
            “Setahun kemudian dia pulang, saat lebaran. Dia senang sekali. Dia bercerita padaku jika seperti ini terus dia bisa menjadi kaya. Aku masih ingat dia tertawa dan sangat bahagia. Dia mentraktir kami, teman-temannya disini. Kehidupan keluarga Argi makin baik, dan tak kekurangan lagi. Pokoknya mereka sangat bahagia. Argi merasa keputusannya tak melanjutkan kuliah tak sia-sia karena dia bisa mengangkat kehidupan keluarganya.”
            Rizki mendengarkan dengan serius. Perasaannya ikut bahagia mengetahui sahabatnya berhasil. Tetapi juga iri, karena dia tak bisa sesukses Argi dalam mencari uang.
            “Tetapi... kebahagiaan itu tak berlangsung lama.” Fandi memelankan suaranya, membuat kening Rizki berkerut.
            “Apa yang terjadi?” Rizki penasaran
            “Enam bulan setelah Argi pulang dan kembali ke Arab, Argi kecelakaan di pabrik. Dia terkena gas beracun. Banyak buruh yang meninggal, termasuk Argi.”
            Deg! Jantung Rizki berdentum,
            “Argi... sudah meninggal?!” Rizki tak percaya
            “Iya. Jenazahnya tiba dua hari kemudian. Keluarganya sangat terpukul. Kami bersedih.” Fandi beraut wajah sendu. Rizki terlebih lagi, wajahnya pias. Sedih tertahan.
            “Lebih menyedihkan lagi kehidupan keluarganya yang kembali seperti semula. Bahkan adik Argi yang sudah kuliah harus berhenti. Tak punya biaya.” Fandi meneruskan cerita dan Rizki masih mendengarkan dengan rasa yang bercampur aduk.
            “Setahun kemudian, setelah adik kedua Argi lulus SMA, mereka memutuskan pindah ke desa kakek Argi. Mereka menjual rumah ini dan dibeli orang yang kasihan pada mereka tanpa menempati rumah ini. Jadilah rumah ini tak terurus.” Fandi diam sejenak, membuat hening. Sedangkan Rizki tak bisa berkata-kata, hatinya berkecamuk.
            “Kenapa Mas baru tahu Argi sudah meninggal? Waktu pemakaman banyak teman SMA nya yang datang.” Deg! Rizki tersentak, menyadari kebodohannya. Malu dan menyesal. Karena ia telah memutuskan hubungan dengan teman-teman SMA nya.  Seolah menghilang dari mereka. Bersembunyi ketika melihat mereka. Tak lain adalah karena Rizki malu pada kehidupannya sekarang.
            “Mas Rizki?” suara Fandi kembali menyentak hatinya, membuyarkan lamunannya.
            “Aku ganti no dan tak ada hubungan lagi dengan teman-teman SMA.” Jawab Rizki sekenanya
            “Oh... Aku jadi ingat, Argi pernah bilang bahwa teman SMA nya ada yang perduli pada kelanjutan studinya. Dia jadi ingin membuktikan pada temannya itu jika dia juga bisa kuliah kelak. Ketika uangnya sudah terkumpul banyak. Dia ingin kuliah di Arab sambil kerja. Dia benar-benar bersemangat mengatakan itu. Dia bahkan berjanji, jika dia sudah kuliah akan mencari temannya itu dan bilang bahwa dia tak mengubur cita-citanya dan sudah berusaha menggapai cita-citanya.” Seketika juga air mata Rizki mengalir, dia tahu bahwa teman yang dibicarakan Argi pada Fandi adalah dirinya.
            “Sayang, sebelum itu terjadi Argi sudah pergi...” Fandi berkata dengan memandangi halaman rumah Argi. Sementara Rizki terhanyut pada kesedihan mendalam. Tak hanya karena kepergian Argi, tetapi juga karena semangat Argi tak pernah hilang. Dia selalu berusaha mewujudkan cita-citanya untuk melanjutkan kuliah. Sedangkan dirinya...
            “Sabar Mas Rizki, kita semua juga sedih kehilangan Argi...” Fandi berkata saat dilihatnya Rizki menangis tersedu.
            Beberapa saat hening lagi diantara mereka. Setelah agak tenang, Rizki berkata pada Fandi.
            “Bisa kah kau antarkan aku ke makam Argi?” Rizki berkata dan Fandi mengangguk. Kemudian mereka berjalan menuju pemakaman.
            “Mas Rizki, aku tinggal ya, ada yang nyari.” Fandi berkata setelah tiba di makam Argi.
            “Iya, terima kasih banyak Fandi.” Rizki menyalami Fandi sebelum Fandi pergi.
            Rizki berlutut dengan lemas di samping makam Argi. Teringat semua bayangan masa lalu. Masa ketika mereka merencanakan cita-cita. Mengkhayalkan masa depan yang indah.
            Air mata Rizki kembali menetes teringat betapa ia menyia-nyiakan kesempatan kuliah. Sedangkan Argi harus bersusah payah agar bisa melanjutkan pendidikan.
            “Maafkan aku Argi, aku tak pernah lagi menemuimu dan aku seolah mengkhianati janjiku sendiri...” Rizki tergugu, dia benar-benar menyesali keputusannya dulu. Jika Argi masih hidup maka tak terbayangkan kemarahan Argi padanya. Betapa malunya Rizki mengakui kebodohannya pada sahabatnya.
            Sekarang, semua telah terjadi dan tak bisa membuat Rizki kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahannya. Tetapi dia merasakan semangat Argi tetap hidup. Semangat untuk mewujudkan cita-cita.
            “Argi, aku akan berusaha mewujudkan cita-citaku, cita-citamu juga, cita-cita kita. Kuliah dan mendapat gelar S1. Aku akan memulainya lagi. Aku berjanji.” Rizki tersenyum dan meninggalkan sahabatnya. Pergi dengan membawa semangatnya.
#####
Inspirated by my best friend...
Sahabat, semoga kau bisa wujudkan cita-citamu... Kau pasti bisa. Karena kau adalah bunga matahari untukku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Komentari Tulisanku Sobat...

Entri Populer

Pengikut