Sabtu, 02 Juli 2011

INDAHNYA SABAR




“Akh…! Susah banget dimengerti! Dibaca berulang-ulang tetap belum paham diriku! Aku udah baca buku yang berbeda-beda, belum juga dapat konsep teori pembentukan ikatan kimia ini. Runyam banget sih langkah-langkahnya, bikin sakit kepala aja!” aku bergumam sendiri di kamar, tentu dengan rasa kesal yang meluap-luap.
            Kalau besok tidak ujian mungkin aku nggak mengalami sindrome stres mendadak seperti ini. Aku bisa baca lagi di malam-malam berikutnya dengan hati yang lebih tenang sehinga aku paham. Sayangnya, ini malam terakhir, jadi aku harus ekstra plus-plus belajarnya. Sedangkan hari-hari kemarin aku selau sibuk dengan kuliah, tugas dan bikin laporan praktikum, baca pun cuma sedikit-sedikit dan sekilas tanpa menelami maksudnya, mata kuliahnya kan buanyak!
            Detik-detik turut menghimpitku, sudah pukul 21.00 dan belum satu pun ilmu yang masuk ke otakku. Aku jadi menyadari bahwa aku tidak pintar apalagi cerdas, tapi malah memilih kuliah di jurusan tingkat tinggi, apa aku terlalu memaksakan egoku dengan masuk ke farmasi? Dan sekarang aku yang sudah suntuk melewati hari-hari yang berat dan melelahkan ingin menyerah. Dari jadwal kuliah yang padat, tugas dan laporan menumpuk, pretes sebelum praktikum, gagal praktikum, materi kuliah yang sulit dan masih banyak lagi. Semuanya bagaikan terpaan angin yang mempermainkan aku di tengah padang pasir. Ditambah lagi tekanan dari dalam semakin mendorongku ke lubang keraguan.


            ”Astagfirullahalaladzim...!” semalam aku ketiduran dan aku bangun jam 5. Padahal aku ujian jam 08.00, rencananya aku ingin bangun sebelum subuh untuk belajar lebih khusuk, tapi Allah berkehendak lain.
            Waktu, malas, lelah , menyerah dan setan serasa memojokkanku ke dinding marah dan sesal. Bagaimana tidak! Aku hanya punya 1 jam untuk belajar, mana bisa kupahami semuanya?!
            Kubaca dan kuhafalkan semampuku lalu bergegas mandi. Aku bersiap berangkat dengan hati berdebar dan tak bersemangat.
            Sesuai dugaanku, soal ujian Kimia Organik sulit bin rumit. Dari 6 soal yang bisa kukerjakan hanya 2, itu pun tak yakin benar. Tak tahulah.
            Habis sudah waktu ujian, aku hanya bisa pasrah keluar ruangan. Hal yang sama dialami pula oleh teman-teman lain, tak sedikit yang marah-marah karena tak bisa kerjakan. Di sisi lain ada yang membahas soal ujian. Suasananya berubah menjadi riuh. Aku tak tertarik bergabung dalam kerumunan yang membicarakan susahnya dan sebalnya ujian kali ini. Sebenarnya aku juga benar-benar kesal dan sedih tidak bisa kerjakan soal ujian. Bakal dapat nilai berapa nanti. Hh…
            Sampai di rumah, di kamar, aku melayangkan renunganku semalam tentang keinginan untuk menyerah, pindah jurusan. Ah… tidak! Daripada berfikir yang aneh-aneh aku segera fotokopi meteri ujian besok kemudian ku kembalikan materinya ke Nia. Kupakai kembali kerudungku dan bergegas mengendarai motorku.
            Siang ini terik sekali, padahal baru pukul 10.30. Tiba di tempat fotokopian antri pula, aku mencoba sabar menunggu dengan posisi berdiri, 3 kursi yang tersedia dipakai semua.
            ”Mana yang mau ku fotokopi banyak lagi! Bakal lama deh!” gerutuku dalam hati.
            Setelah lumayan lama, aku dilayani juga. Mbak itu mengambil satu bendel kertas dariku dan mulai memfotokopi. Aku menunggui dengan agak tak sabar, karena dia bekerja pelan, padahal aku sudah menunggu sejak tadi.
            Beberapa menit kemudian dia selesai memfotokopi dan menghitung jumlah kertas. Wajahnya terlihat lesu, sesekali dia mengucek matanya, mungkin dia mengantuk dan matanya pedih karena terkena kilatan cahaya dari mesin fotokopi. Walau hanya sekedar memfotokopi, tapi kalau terus menerus pasti sangat capek, harus berdiri terus dan tangan membolak-balik kertas.
            Selesai fotokopi aku melaju ke tempat kos Nia. Aku masih kesal pada matahari yang terlalu bersemangat bersinar, kasihan motorku kepanasan, pantatku jadi panas saat mendudukinya.
            Dalam waktu 5 menit aku sudah sampai di rumah kos Nia. Ku parkir motorku di depan gerbang, tiba-tiba ada yang menegurku.
            ”Mbak, parkir disini saja yang teduh!” aku tengok ke asal suara, ternyata dari seorang ibu penjual sayuran. Dia berada di seberang jalan di depan kos Nia, dia menujuk tempat di sampingnya, tepatnya di latar sebuah warung makan.
            ”Tidak usah Bu, cuma bentar kok!” tolakku dengan senyum, dalam hati aku berkata,
            ”Biar ajalah kepanasan motorku, dari tadi juga kepanasan, panas sebentar lagi nggak masalah, lagipula repot harus belokin  motor ke seberang jalan.”
            Lalu aku masuk ke dalam dan mengetuk pintu kamar Nia. Setelah kuserahkan materi miliknya dan ucapkan terima kasih aku cepat-cepat pergi. Ketika aku pakai helm, ibu tadi menegurku lagi,
            ”Panas kan motornya mbak? Coba tadi parkir disini, pasti nggak kepanasan.” ucapnya dengan ramah sambil tersenyum.
            Aku hanya bisa balas senyum pada ibu yang sedang duduk menghadap meja kecil tempat sayur-sayurannya yang masih banyak. Di siang yang panas begini sayuran itu apa tidak layu ya? Pastinya tidak sesegar pagi tadi, mungkin karena itu sayurannya tidak laku atau mungkin karena sekarang orang-orang  malas memasak dan lebih memilih membeli makanan di warung makan.
            Tetapi ibu itu masih duduk disitu mengharapkan ada yang membeli sayurannya. Dia tetap berusaha, sabar, tidak menyerah dan tidak pulang. Saat berlalu, sekilas kulihat ibu separuh baya itu, wajahnya tetap cerah tanpa lesu atau kesal, walau mungkin dia lelah. Dia juga begitu peduli menyuruhku memarkir motor di tempat teduh. Sedangkan aku pemiliknya malah tak peduli, seperti tidak mensyukuri nikmat yang aku punya.
            Aku terus memikirkan ibu penjual sayur itu, aku iba padanya karena tidak ada yang peduli dengan dagangannya.
            ”Astagfirullah!” aku hampir bertabrakan dengan sepeda yang dikendarai seorang bapak di perempatan jalan kecil, alhamdulillah aku sigap mengerem.
            Bapak itu hanya tersenyum dan segera berlalu dengan sepeda tuanya. Kalau bukan orang baik pasti bapak tadi akan marah-marah padaku yang tidak melihat kanan kiri saat melewati perempatan.
            Ku lanjutkan perjalanan ke rumah. Di lampu merah, ada pedagang koran yang menawarkan korannya, namun tak ada yang mau beli. Padahal korannya masih banyak, dia tidak marah atau kesal karena tak ada yang beli, terlihat oleh raut muka yang ceria. Disisi lain ada seorang tukang becak yang mangkal di depan sebuah minimarket.  Saat ada ibu yang keluar dari minimarket, tukang becak itu mencegatnya, menawari becaknya. Tapi ibu itu menolak dan berjalan ke halte. Jika dia bukan pekerja keras dan penyabar, mungkin dia akan menyerah atau pergi atau juga menggerutu. Di terik panas begini mengayuh becak yang berat pasti melelahkan, tapi tukang becak itu tetap menunggu penumpang.
            Aku tersentak oleh klakson mobil yang menyuruhku jalan karena lampu sudah hijau. Sentakan itu juga menyadarkan aku yang terlalu mengeluh pada kehidupan yang sulit. Namun kesulitan orang-orang yang kutemui tadi jauh lebih besar dari kesusahanku dalam kuliah. Aku terlalu berlebihan menanggapi kesulitanku, tak seperti mereka yang senantiasa tersenyum dan pantang menyerah menerima kesusahan yang sungguh-sungguh susah. Aku jadi malu dan merasa beruntung jika mengingat mbak di tempat fotokopi, ibu penjual sayuran, bapak bersepeda, penjual koran dan bapak tukang becak. Mereka tidak mudah menyerah, tetap berjuang dan tak mengeluh atau mengumpat. Sedangkan aku, hanya soal ujian yang sulit saja, sudah buatku berfikir menyerah, sangat lemah dan rendah diriku.
            Allah telah sadarkan aku, ingatkan aku untuk tidak mudah mengeluh dan menyerah. Allah ingin aku terus berjuang dengan ikhlas dan senyum saat kesulitan  datang. Tentu kesabaran yang utama, agar aku kuat dan yakin pada cinta Allah, yang selalu tercurah pada setiap hambaNya yang beriman. Terima kasih Ya Allah, telah menyadarkan manusia pemarah dan kufur ini. Aku mengaku salah sudah marah-marah dan tidak mensyukuri nikmatMu yang luar biasa besar. Ampun Ya Allah....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan Komentari Tulisanku Sobat...

Entri Populer

Pengikut